Kondisi iklim di Australia yang sedang tak bagus untuk panen sapi, ditambah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga masih terkoreksi, membuat impor sapi mahal dan harga di dalam negeri tetap tinggi.
"Depresiasi (pelemahan rupiah) dan dengan kendala di Australia karena musim hujan mereka kan rumputnya lagi tumbuh. Sapi banyak dilepas dan ada daerah banjir, sehingga bulan-bulan ini bukan panen yang bagus untuk mereka (peternak) ambil. Harga dari 6 bulan yang lalu sampai saat ini naiknya hampir US$ 1/kg, jadi dari US$ 2-3/kg itu kan naikna 50% harga di sana. Pengiriman untuk sampai di sini diperkirakan US$ 3-3,05/kg itu juga problem," sebut Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (15/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi kalau mereka ambil yang besarnya mendakati 400 kg dan 425 kg di sini itu bisa terkompesir dengan penambahan badan tadi, efisiensinya bisa lebih tinggi. Nah, indikasi penahanan sampai seminggu setelah pembebasan supaya harga bisa rendah. Unitnya bisa diperbesar itu kebijakan kita kalau sudah siap potong digelontorin dulu. Karena begini, demand supply kalau jumlahnya banyak yang digelontorin harganya bisa turun," katanya.
Untuk sementara ini, Bachrul meminta kepada para importir untuk segera memotong 36.000 ekor sapi siap potong yang telah didatangkan. Dari jumlah itu, baru 6.600 ekor sapi yang sudah dipotong. Ia mengklaim, untuk saat ini tidak ada pelanggaran kasus yang dilakukan oleh para importir sapi.
"Sebetulnya bukan penahanan, dia (sapi) mendarat 14 hari itu saja di karantina dan dia harus memulihkan dulu 3-4 hari sampai satu minggu jadi total tiga minggu. Kita akan minta yang ada di karantina kita harapkan bisa dipotong ya itu," jelasnya.
(wij/dnl)











































