Situasi ekonomi yang sulit di Amerika dan belahan Eropa telah mempengaruhi publik dalam banyak sisi. Tak terkecuali dalam hal cara mereka memenuhi kebutuhan gizinya. Sejumlah riset menyatakan krisis ekonomi telah membuat harga sejumlah bahan makanan naik, sementara daya beli masyarakat menurun. Lantas makan apa mereka pada saat krisis?
***
Hidup mesti berlanjut, begitulah pikir Giorgos Fragioudakis. Bekas eksekutif di perusahaan periklanan di Athena, Yunani, ini harus meninggalkan pekerjaannya dengan terpaksa. Perusahaannya bangkrut pada saat krisis ekonomi meluluhlantakkan Yunani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisnis restoran cepat saji yang dibukanya beberapa bulan lalu dengan dua rekan, sukses. Tak lama lagi bisnis mereka akan balik modal. Fragioudakis bilang, masih ada kok persinggungan antara iklan dan berbisnis restoran daging yang dipanggang di tusuk sate itu.
Padahal, Fragioudakis sama sekali awam dengan souvlaki. “Saya tak tahu sama sekali, saya hanya belajar tiap-tiap hari,” katanya. “Tapi skill di perusahaan iklan sangat diperlukan dalam bisnis ini.”
Kalau di New York ada hot dog, maka Athena punya souvlaki atau kerap juga disebut gyros atau kebab. Penganan yang satu ini sudah dinikmati orang Yunani atau orang Athena khususnya sejak zaman kuna.
Homer sudah menyebut souvlaki di Iliad dan Oyssey. Begitu juga Aristoteles dalam tulisan-tulisannya. Bahkan ada temuan arkologi yang mengindikasikan bahwa souvlaki sudah dikenal sejak 3.500 tahun yang lalu.
Untuk Yunani di era masa kini, souvlaki sudah menjadi fenomena kultural. Ia menginspirasi musik populer, merchandise dari T-shirt sampai boneka. Bahkan ada permainan anak-anak bernama Souvlaki Wars, permainan yang mengisahkan perang bisnis restoran souvlaki.
Ada page pecinta souvlaki di Facebook. Situs-situs penghantaran souvlaki bertebaran di dunia maya. Malah ada situs bernama Theolosouvlaki.gr (terjemahannya “Saya mau souvlaki”) yang mempunyai katalog 2.177 kios souvlaki di 200 kota di Yunani dan Siprus dan pengunjung bisa memberikan rating untuk outlet yang mereka nilai paling bagus.
Para chef seperti Fragioudakis mencoba melakukan inovasi pada resep makanan kuna itu. Kalau dulu isinya hanya potongan daging babi atau ayam, kini sudah ada souvlaki berisi udang, ikan pedang, sampai bacon. Untuk rotinya, kalau biasanya dari gandum, ada yang menggantinya dengan tepung jagung.
Mengapa souvlaki membuat 'gila' orang Yunani? Ada yang bilang itu simbol patriotisme, didorong oleh krisis ekonomi yang melanda Yunani. Orang-orang Yunani telah menemukan kembali makanan aslinya dan beralih dari makanan asing seperti hamburger dan sushi.
Ada juga yang bilang soal fungsi ekonomi. Souvlaki adalah makanan murah, harganya hanya sekitar Rp 27 ribu seporsi. Selain murah, isinya pun dinilai sebagai makanan cepat saji yang sehat, karena souvlaki disajikan dengan tomat, kentang goreng, bawang, dan susu asam yang dikenal dengan nama tzatziki.
Makanan juga membuat orang-orang lupa akan krisis ekonomi. Di gerai-gerai souvlaki orang-orang Yunani dari berbagai lapisan suka berkumpul. Dari orang kaya sampai miskin, pengangguran sampai eksekutif perusahaan.
“Bagi kami, tak ada krisis kalau soal makanan,” kata Fragioudakis. “Orang Yunani memiliki relasi yang erotis dengan makanan, kami mungkin tak bisa berbuat banyak menghadapi krisis tapi kami tetap akan makan.”
Tapi tak semua senang. Ada peritel yang merasa bisnisnya terganggu. Pebisnis souvlaki yang lama juga khawatir fenomena itu hanya sementara. “Pebisnis baru itu hanya ingin cepat kaya, padahal mereka harus membangun bisnisnya setahap demi setahap,” kata Spyros Bairaktaris, pemilik restoran yang keluarganya sudah berbisnis souvlaki selama 134 tahun di Acropolis.
(DES/DES)











































