Tantangan Ekonomi RI di 2014 Versi Bos OJK

Tantangan Ekonomi RI di 2014 Versi Bos OJK

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 18 Nov 2013 11:05 WIB
Tantangan Ekonomi RI di 2014 Versi Bos OJK
Jakarta - Ada beberapa tantangan berat yang bakal dihadapi oleh industri pasar keuangan. Apalagi mengingat ketidakpastian perekonomian global dan banyaknya pekerjaan rumah di dalam negeri.

Pertama adalah terkait dengan aspek permodalan industri keuangan yang cenderung dianggap masalah klasik. Industri keuangan yang akan bertahan dan berkembang adalah industri yang memiliki modal yang kuat.

"Ini sama kayak shockbreaker dalam kendaraan. Karena itu akan mencegah menjaga gejolak. Kita tetap masih bisa tidur nyenyak dalam kendaraan. Modal yang kuat itu juga mencegah risiko," ungkap Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad dalam seminar outlook economy 2014 di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta, Senin (18/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Risiko yang dimaksud, misalnya dari dampak dari efek eksternal yaitu penarikan stimulus oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Dengan modal yang kuat, risiko tersebut dapat tercegah dengan tepat.

"Jadi biarkanlah, tappering off itu urusan di sana. Lebih baik fokus pada PR kita sendiri. Karena ketika ada shock besar maupun kecil kita bisa tetap menjaga. Berapa modal yang besar, nggak ada aturannya," sebut Muliaman.

Kedua adalah pengelolaan industri keuangan dengan memastikan pertumbuhan yang stabil. Kestabilan menurutnya adalah penyesuaian anatara kemampuan untuk bertahan dan kemampuian untuk tumbuh.

"Kendalikan mobil itu pada tingkat kecepatan yang aman. Kalau tinggi, itu sulit ketika kambing lewat. Jadi ketika aman, itu lebih manageable.
Kecepatan yang terlalu rendah juga tidak terlalu baik. Karena akan lama. Jadi berapa persisnya itu tergantung dengan pemiliknya," paparnya.

Ketiga yang juga penting menjadi perhatian adalah aset. Terutama untuk aset yang langsung bersentuhan dengan pasar. Keempat adalah manajemen risiko. Muliaman menuturkan, untuk bagian ini masalah sering muncul pada anak perusahaan.

"Hampir setiap bank itu punya anak perusahaan. Seperti asuransi, perusahaan pembiyaan yang juga terekspor dengan pasar keuangan. Jangan sampai anak perusahaan ini menarik risiko untuk perusahaan induknya," tegas Muliaman.

Ia menginginkan kedepan, perbankan tidak hanya menjadikan anak perusahaan sebagai tempat penyimpanan aset. Harus tetap ada fokus agar anak perusahaan tidak menimbulkan masalah besar untuk induknya.

"Untuk setiap anak perusahaan dari perbankan harus ada salah seorang direksi yang menjaga. Supaya audit dan bentuk aktivitas dapat terkontrol dengan baik," ujarnya.

(mkj/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads