Orang Inggris Jadi Pelahap Makanan 'Sampah'

Makan Apa Ketika Ekonomi Sulit? (3)

Orang Inggris Jadi Pelahap Makanan 'Sampah'

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 18 Nov 2013 14:37 WIB
Orang Inggris Jadi Pelahap Makanan Sampah
Foto: Reuters
Jakarta - Situasi ekonomi yang sulit di berbagai belahan dunia telah mempengaruhi publik dalam banyak sisi. Tak terkecuali dalam hal cara mereka memenuhi kebutuhan gizinya. Sejumlah riset menyatakan krisis ekonomi telah membuat harga sejumlah bahan makanan naik, sementara daya beli masyarakat menurun. Lantas makan apa mereka pada saat krisis?

***
 
Krisis ekonomi di Inggris telah mengubah cara masyarakat negeri itu makan. Makin menurunnya pendapatan dan naiknya harga makanan telah membuat banyak orang Inggris berhenti mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran lalu beralih ke makanan sampah alias junk food.
 
Sejak 2005-2012 terjadi peningkatan harga makanan yang signifikan di Inggris dibandingkan negara-negara lain. Sementara krisis ekonomi membuat pendapatan menurun dan angka pengangguran meningkat.

Rata-rata peningkatan harga makanan adalah 33 persen antara 2007-2013. Harga mentega, daging, dan buah-buahan lebih tinggi lagi. Sementara makanan olahan naik 28 persen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atas kondisi itu, orang-orang Inggris harus merogoh saku lebih dalam. Pengeluaran mereka untuk makanan naik 8,5 persen dari rata-rata. Alhasil, orang-orang banyak yang membeli makanan yang lebih murah, kalori rendah, begitu juga kualitasnya.

Selain rendah nutrisi, makanan itu pun sangat tinggi lemak dan gula. “Berbagai ukuran kualitas nutrisi menurun masa-masa ini, paling besar terjadi pada kalangan pensiunan dan rumah tangga yang punya anak-anak kecil,” kata Institut Studi Fiskal (IFS), sebuah badan riset ekonomi pada awal pekan lalu.

Menurut studi dari institut itu, keluarga yang memiliki anak-anak kecil cenderung beralih ke makanan yang tinggi kandungan gula. Sementara kaum pensiunan memilih makanan tinggi lemak. Kedua kelompok masyarakat ini sama-sama berpenghasilan rendah.

Tapi IFS menyatakan, diet berkualitas rendah memang tak serta merta bisa disebut sebagai konsekuensi duit sedikit, soalnya ada juga rumah tangga lain yang mampu membeli makanan sehat meski harus menekan pengeluaran yang lain.
 
“Riset lebih lanjut perlu dilakukan, mengapa ada yang cenderung jadi penikmati makanan sampah dan mengapa yang lain tidak,” ujar badan itu dalam pernyataannya.

Riset yang digelar bersama perusahaan riset pasar Kantar Worldpanel itu dilakukan terhadap perilaku belanja di 15 ribu rumah tangga pada kurun waktu 2005-2012. Riset tak memasukkan makanan yang dibeli atau disediakan di luar rumah, seperti di restoran atau sekolah, yang mana Inggris memang punya program makanan gratis untuk orang miskin.

Studi itu kemudian dirilis bersamaan dengan riset jangka panjang yang digelar oleh IFS, yang mendapati bahwa orang Inggris mengkonsumsi kalori 15-30 persen lebih rendah dibandingkan tahun 1980, meskipun obesitas bisa juga terjadi akibat aktivitas fisik yang kurang.

Obesitas di Inggris memang meningkat. Menurut data kesehatan 2011 dari Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), lebih dari 25 persen orang Inggris terkena obesitas dan 70 persen termasuk berkelebihan berat badan. Berat badan rata-rata orang dewasa Inggris telah naik 8,6 kilogram dan berat badan perempuan dewasa naik 7,9 kilogram. 

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads