RI-Belanda: Kemitraan Setara, Bermartabat dan Saling Manfaat

Laporan dari Den Haag

RI-Belanda: Kemitraan Setara, Bermartabat dan Saling Manfaat

Eddi Santosa - detikFinance
Selasa, 19 Nov 2013 11:54 WIB
RI-Belanda: Kemitraan Setara, Bermartabat dan Saling Manfaat
Den Haag - Kunjungan resmi PM Belanda Mark Rutte ke Indonesia (20-22 November 2013) membawa semangat baru menuju kemitraan setara, bermartabat dan saling manfaat atau saling menguntungkan.

PM Rutte didampingi oleh Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Belanda Lilianne Ploumen, Staatssecretaris (setingkat Menteri Muda atau Deputi) Urusan Ekonomi Sharon Dijksma, dan lebih dari 100 perusahaan, 15 di antaranya adalah CEO, suatu delegasi bisnis terbesar sepanjang sejarah hubungan bilateral Indonesia-Belanda.

Saat berita ini dinaikkan, pemimpin berusia muda kelahiran Den Haag, 14 Februari 1967, itu diperkirakan sudah mendarat di Jakarta pada hari ini, Selasa (19/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keterangan pers Rijksvoorlichtingsdienst (Dinas Penerangan Kerajaan) menyebutkan, bahwa PM Rutte bersama Presiden RI Yudhoyono akan membicarakan hubungan diplomatik dan ekonomi kedua negara dan bagaimana mengisinya lebih lanjut.

Berbagai bidang yang menjadi perhatian untuk kerjasama antara lain infrastruktur, peningkatan kapasitas pelabuhan, water management, pengendalian banjir, kesehatan dan life science, agrofood dan pertanian, peternakan dan industri susu, dan bidang-bidang lainnya.

Seusai pembicaraan, kedua Kepala Pemerintahan akan meluncurkan Joint Declaration on Comprehensive Partnership (Deklarasi Bersama Kemitraan Komprehensif, red) di mana kedua negara menyatakan keinginan untuk meningkatkan hubungan ke tingkat kemitraan setara.

Setara, bermartabat dan saling memberi manfaat, ketiga hal tersebut selalu dijadikan daya tawar oleh Duta Besar RI Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Retno L.P. Marsudi sejak menggantikan Dubes J.E. Habibie menempati pos perwakilan di Den Haag.

Retno, dalam berbagai kesempatan pertemuan resmi dengan kalangan parlemen, pemerintahan, dunia usaha, maupun dengan masyarakat Belanda dengan tegas dan jelas menyampaikan mengenai 'Indonesia Baru', postur ekonomi dan politiknya, serta kiprah Indonesia di fora internasional dan kawasan.

Dubes perempuan Indonesia pertama untuk Kerajaan Belanda, salah satu perwakilan yang berat mengingat beban sejarah kedua bangsa, itu tegas dan keras tapi terukur kalau sudah menyangkut tuntutan hubungan setara, bermartabat dan saling memberi manfaat bagi rakyat kedua bangsa, termasuk dalam isu integritas dan kedaulatan.

Diplomat senior Kemlu RI ini meminta Belanda harus realistis melihat Indonesia baru sebagai mitra setara. Dalam satu dasawarsa terakhir, Indonesia telah mencapai kemajuan sangat signifikan, antara lain dalam demokrasi dan pertumbuhan ekonomi.

"Adalah penting menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, tetapi tidak kalah penting adalah realistis menghadapi kenyataan dan menatap bersama ke masa depan untuk kerjasama yang saling menguntungkan," demikian Retno.

Kunjungan PM Mark Rutte dan peluncuran Deklarasi Bersama Kemitraan Komprehensif dapat menjadi a cherry on the cake atas upaya-upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali dialog dan peningkatan kerjasama kedua negara, sejak penundaan kunjungan presiden tiga tahun lalu.

(es/es)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads