Nasib Bandara Soekarno Hatta Bisa Serupa Dengan Jalanan Jakarta

Nasib Bandara Soekarno Hatta Bisa Serupa Dengan Jalanan Jakarta

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 20 Nov 2013 07:17 WIB
Nasib Bandara Soekarno Hatta Bisa Serupa Dengan Jalanan Jakarta
Jakarta - Bandara Internasional Soekarno Hatta di Cengkareng bisa bernasib sama dengan kondisi jalanan di ibu kota Jakarta. Pasalnya saat ini bandara tersebut sudah sangat padat.

Ketua umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Carriers Air Assosiation (INACA) Arif Wibowo mengatakan, proyek perluasan bandara harus terus berjalan. Jika sampai berhenti, maka konsekuensinya akan fatal.

“Jadi ini mirip Jakarta. Kalau infrastruktur bandara tidak dibenahi ya kemacetannya akan kayak begini (Jakarta),” ucap Arif kepada detikFinance di Kantor Pusat Citilink, Jakarta, seperti dikutip Rabu (20/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

INACA memandang operator bandara dan operator navigasi udara pelat merah perlu lebih fokus mempercepat pembangunan infrastruktur di Bandara Soekarno Hatta. Karena bandara yang terletak di Banten ini merupakan pusat lalu lintas penerbangan di Indonesia.

“Jadi kita ingin fasilitas infrastruktur dipercepat juga. Jadi minimal Cengkareng dulu deh. Kalau Cengkareng sudah dibereskan karena kita sudah analisa dari tahun lalu 66 juta penumpang traffic-nya. 40 juta itu yang keluar dari Cengkareng. Itu terdiri dari 22 rute utama dan basisnya di Cengkareng,” tegasnya.

'Contek' Heathrow Atasi Keruwetan

Pengelola bandara dan operator navigasi udara di Bandara Internasional Soekarno Hatta di Cengkareng Indonesia diharapkan bisa meniru kesuksesan operator Bandara Internasional Heathrow di London Inggris.

Bandara yang terletak di London ini, dinilai mampu memaksimalkan pengaturan lalu lintas udara (Air Traffic Flow Management) untuk pesawat yang bakal take off atau landing. Alhasil operator Bandara Heathrow mampu mengurai kepadatan lalu lintas pesawat.

“Di Heathrow satu runway bisa 60. Kalau di kita untuk 2 runway harus 64. Jadi banyak hal yang harus dipercepat tidak hanya pihak bandara sehingga ini tidak hanya memberikan nilai positif yang skalanya nasional,” ucap Arif.

Ia yang mewakili 12 maskapai berjadwal dan 20 maskapai carter pun berharap adanya percepatan pengembangan sistem dan peralatan navigasi udara. Sehingga antrian pesawat yang akan landing dan take off bisa dipersempit.

“Dengan manajemen flow di navigasi. Mudah-mudahan yang kita harapkan di INACA itu, ada perbaikan yang lebih cepat. Tidak hanya ditahan tidak boleh mengajukan slot di sana tapi ada baiknya infrastruktur ini dipercepat yang dengan fasilitas-fasilitas yang lebih canggih,” terangnya.

Bos Citilink ini juga menilai pemanfaatan Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur harus segera dilakukan. Langkah ini merupakan solusi jangka pendek mengurai kepadatan lalu lintas penerbangan dan penumpang yang menumpuk di Bandara Soekarno Hatta.

“Makanya opsi menambah Halim sebagai solusi jangka pendek sangat ditungu-ditunggu oleh kita,” sebutnya.

INACA juga menyambut baik langkah Kementerian Perhubungan yang menghentikan izin pendirian maskapai baru. Selain mampu mengurai kepadatan, langkah ini telah memberi angin bagi maskapai yang sedang beroperasi.

“Kemudian kemarin ada moratorium. Itu sangat positif bagi kita. Buat pemain yang sudah eksis itu sangat membantu. Dalam kita me-manage bisnis di masing-masing airlines. Jadi itu bagian mengatasi masalah tersebut,” tegasnya.

(hen/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads