Maskapai Dirugikan Karena Harus Antre Terbang dan Mendarat di Bandara Soetta

Maskapai Dirugikan Karena Harus Antre Terbang dan Mendarat di Bandara Soetta

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 20 Nov 2013 11:42 WIB
Maskapai Dirugikan Karena Harus Antre Terbang dan Mendarat di Bandara Soetta
Jakarta - Maskapai penerbangan menilai padatnya lalu lintas udara di Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng merugikan. Saat pesawat antri untuk take off (terbang) dan landing (mendarat), beban operasional maskapai untuk pun ikut meroket.

Seperti yang terjadi pada biaya bahan bakar. Untuk antri take off dari taxi way menuju run way (landasan) selama 20 menit, maskapai yang menggunakan pesawat berbadan kecil sekelas Airbus 320 atau Boeing 737 bakal mengalami kerugian hingga Rp 10 juta. Kerugian ini baru datang dari konsumsi bahan bakar saja.

“Kalau 20 menit delay saja itu cost-nya bisa sampai US$ 1.000 atau Rp 10 juta. Itu bicara 20 menit,” Ketua umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Carriers Air Assosiation (INACA) Arif Wibowo kepada detikFinance di Kantor Pusat Citilink, Jakarta ,seperti dikutip Rabu (20/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, biaya bahan bakar akan lebih membengkak ketika pesawat antri atau berputar-putar di udara ketika belum diizinkan mendarat.

“Kalau delay muter-muter, dia lebih banyak lagi daripada dari taxi (sebelum menuju landasan),” sebutnya.

Arif menjelaskan, 50% biaya operasional maskapai berasal dari bahan bakar. Sehingga makin lama delay, semakin menambah beban operasional maskapai. Karena menurutnya untuk mengoperasikan pesawat berbadan kecil, maskapai harus mengeluarkan biaya hingga US$ 6.000 per jam.

“Maskapai sudah jelas. Kalau cost per jam US$ 5.000-6.000 untuk narrow body. Itu rata-rata lah dan itu total cost. Fuel kan 50% dari itu. Itu per flying hours,” jelasnya.

Beban maskapai juga semakin memuncak ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah. Karena komponen seperti biaya bahan bakar hingga perawatan pesawat dilakukan dalam bentuk mata uang dolar.

“Dolar ini kan perlu kita waspadai karena masih bertengger di Rp 11.000. Airlines kan biayanya 70% dalam bentuk dolar. Seperti rental pesawat, kemudian spare part maintanance dan sebagainya. Yang kemudian si harga minyak ikuti dolar juga,” tegasnya.

Akibat kondisi lalu lintas pesawat yang tinggi di Bandara Soekarno Hatta, Arif mengaku maskapai tidak memperoleh izin menambah slot atau jadwal penerbangan pada jam-jam sibuk atau prime time.

“Keterbatasan slot karena setiap airlines ingin menambah slot di prime time. Kita telah berusaha mengisi dari pagi sampai malam. Dari malam sampai pagi lagi,” katanya.

(hen/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads