“Saya sudah siap segera hamil lagi segera setelah detil regulasi itu keluar,” kata Long Xiaolan, ibu satu anak yang berusia 2 tahun enam bulan.
Xiaolan adalah seorang analis bisnis berusia 32 tahun. Dirinya dan suaminya hanya memiliki satu orang anak, sesuai dengan kebijakan Satu Anak yang diterapkan China sejak awal 1980. Xiaolan juga termasuk anak yang lahir di bawah regulasi itu.
Tapi Xiaolan tak mau putranya mengikuti jejaknya. Seperti banyak pasangan China lainnya, dia berencana untuk hamil dan melahirkan di Amerika Serikat. Tapi dia beruntung. China baru-baru ini telah melonggarkan kebijakan Satu Anak tersebut.
Beijing menyatakan akan mengizinkan pasangan menikah untuk memiliki dua anak apabila salah satu pasangan adalah anak satu-satunya. “Arahnya memang sudah pasti, tapi strategi seperti apa yang akan kami pilih, masih menunggu verifikasi dari pakar,” kata Mao Qun'an, juru bicara Komisi Kesehatan Nasional dan Keluarga Berencana.
Sementara itu Wang Peian, Wakil Direktur Komisi Kesehatan Nasional dan Keluarga Berencana, mengatakan meski ada kebijakan seperti itu kebijakan perencanaan keluarga tetap harus diterapkan dalam jangka panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media massa di China menyambut positif rencana itu. “Ini tanda positif, yang tak hanya berhubungan dengan masalah ketidakseimbangan demografis, kurangnya tenaga kerja, dan isu lainnya, tapi juga membantu membangun keamanan sosial yang kuat dan sistem pensiun,” ujar Beijing Times.
Sebaliknya di Hong Kong, pemerintah setempat bilang tidak akan buru-buru menerapkan kebijakan baru itu seandainya nanti diputuskan. Soalnya, berbeda dengan China daratan, Hong Kong sendiri punya masalah yang berbeda. Dikhawatirkan, jika terjadi ledakan populasi akan jadi beban tambahan.
Sementara wilayah-wilayah China yang lain, diperkirakan butuh setidaknya beberapa bulan untuk merancang legislasi baru untuk memayungi perubahan kebijakan Satu Anak itu. Kawasan dengan tingkat angka kelahiran yang rendah, seperti Beijing, Shanghai, Guangdong, Zhejiang, Jiangsu, dan provinsi-provinsi di belahan timur laut China kemungkinan besar akan menerapkannya pada awal tahun depan.
Apakah akan terjadi ledakan kelahiran bayi di China atau yang dikenal pula dengan istilah baby-boomer? Mu Guangzong tak sependapat. Guru besar di Universitas Peking ini, kepada China Daily, mengatakan bahwa kontribusi kebijakan itu hanyalah terjadinya peningkatan angka kesuburan.
“Tidak akan menyebabkan ledakan populasi,” kata Guangzong. “Asal otoritas mesti memberikan insentif supaya hanya keluarga-keluarga yang punya kualifikasilah yang bisa memiliki anak kedua.”
(DES/DES)











































