Saham perusahaan susu formula bayi dan bahkan perusahaan pembuat piano, melonjak pada awal pekan lalu. Begitu juga saham lembaga kursus, dengan asumsi bahwa keluarga urban akan mempersiapkan pendidikan bagi anak kedua sama baiknya dengan anak pertama.
Saham perusahaan tisu C&S Paper Co. misalnya, naik hampir 10 persen di bursa saham Shenzhen. “Saat ini produk untuk anak-anak hanya 10 persen dari total produk kami, tapi kami nanti berencana meningkatkan produksi produk anak-anak,” kata Liu Yuwu, C&S General Manager.
Menariknya, saham dua perusahaan pembuat piano, Hailun Piano Co. dan Guangzhou Pearl River Piano Group Co. ikut-ikutan naik. Masing-masing hampir mendekati 10 persen. Teorinya, orang tua di China pasti akan membeli piano kedua untuk anak keduanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun saham perusahaan susu formula bayi, Biostime International Holdings Ltd., naik 6,6 persen. Begitu juga saham perusahaan popok bayi Hengan International Group Co., naik 6,4 persen di bursa saham Hong Kong.
Sebaliknya, kerugian menimpa perusahaan yang selama ini mendapat keuntungan dari kebijakan Satu Anak. Contohnya saham Humanwell Healthcare, perusahaan pembuat kondom dan kontrasepsi mulut. Saham mereka turun 0,8 persen di bursa saham Shanghai.
Rumah sakit di China pun sudah siap-siap. Shanghai United Hospital berencana menambah kursus bantuan kesuburan dan konseling akan risiko kehamilan bagi ibu usia menengah yang ingin memiliki bayi lagi.
Sementara di jejaring sosial, keputusan pemerintah itu disambut jenaka. Di situs microblogging Weibo misalnya, ada yang menulis: “Orang-orang muda sekarang lebih cepat tidur karena boleh punya anak kedua.”
Pelonggaran kebijakan Satu Anak adalah cara pemerintah China menghadapi situasi pelik yang melanda negeri Tirai Bambu. Angka kelahiran anak di sana rendah sekali. Dampaknya adalah turunnya populasi generasi muda dan angkatan kerja.
Kebijakan Satu Anak dimulai pada 1980. Orang tua yang memiliki lebih dari satu anak setelah aturan itu diberlakukan akan kena denda. Peraturan ini diterapkan secara ketat di kawasan perkotaan. Sedangkan di kawasan pedesaan lebih lunak.
Dari total 1,3 miliar populasi China, 79 juta perempuan berusia produktif, yaitu 23-42 tahun. Merekalah yang akan menikmati perubahan kebijakan Satu Anak itu. Kalau seperempat saja dari mereka punya satu anak lagi, maka akan lahir 9,5 juta bayi pada lima tahun lagi. Begitulah analisa Bank of America Merrill Lynch.
(DES/DES)










































