Kebijakan Dua Anak yang bakal diberlakukan di China itu akan berdampak pada sekitar 15-20 juta pasangan yang punya kualifikasi. Mereka adalah orang tua yang lahir sebagai hasil dari kebijakan Satu Anak, alias salah satunya adalah anak tunggal.
Kebijakan Satu Anak telah menyebabkan angka kelahiran anak di China hanya 1,5-1,6 anak per perempuan. Kebijakan baru diperkirakan akan memberikan tambahan kelahiran sampai 1-2 juta anak per tahun begitu regulasi ditetapkan. Saat ini saban tahun terjadi 16 juta kelahiran di China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasannya, menurut Feng, ada pergeseran pandangan di antara pasangan muda China soal reproduksi. Mereka diperkirakan banyak yang tidak akan memilih untuk menambah anak.
Salah satu pasangan yang seperti itu adalah Xia Gaolong dan istrinya. Pasangan ini sudah memiliki putra yang berusia 10 tahun. Tapi pebisnis bus wisata ini menilai punya anak kedua bukanlah opsi yang menarik di tengah tingginya biaya hidup.
“Saya tidak akan punya anak kedua,” kata warga Nanjing, di timur China ini. “Ada banyak tekanan dalam kehidupan hari-hari ini dan anak saya pasti akan menghadapi tekanan yang lebih lagi nanti.”
Cai Rong, seorang pengajar di Universitas North Carolina, mengatakan masyarakat China memang sudah 'berdamai' dengan pola hidup keluarga kecil.
Tapi memang ada banyak juga pasangan yang antusias pada relaksasi kebijakan Satu Anak itu. Di jejaring sosial Sina Weibo misalnya, sebanyak 60 persen pasangan yang berkualifikasi dengan kebijakan itu, menyambut dengan sukacita.
“Anak kedua jelas perlu, dan kami bersyukur pada kebijakan baru itu,” kata May Zha, 34 tahun, asal Beijing, yang kini mempunyai seorang anak berusia 3 tahun. “Kami akan segera mengusahakan anak kedua.”
Wang Peian, Deputi Direktur Komisi Kesehatan Nasional dan Keluarga Berencana, mengatakan berbagai batasan memang diterapkan supaya tak terjadi ledakan kependudukan. Ledakan kependudukan, kata dia, hanya akan menambah beban pada pelayanan publik.
(DES/DES)











































