Padatnya lalu lintas penerbangan di bandar udara internasional itu pernah membikin Evy merasakan keterlambatan jadwal penerbangan. “Waktu ke Malaysia, saya harus menunggu di dalam pesawat selama 50 menit karena pesawatnya mengantri runway saat akan take off,” katanya di Jakarta, kemarin.
Keluhan Evy bukan cerita isapan jempol. Kalau melihat lalu lintas penerbangan di Soekarno-Hatta, sesaknya luar biasa. Setiap 40 detik ada satu pesawat yang melintasi runway Soekarno-Hatta atau sekitar 90 pesawat per jam. Padahal idealnya adalah 35-40 pesawat per jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi pertumbuhan kapasitas bandar udara tak berjalan beriringan. Contohnya ya di Soekarno-Hatta itu. Dampaknya tak hanya dirasakan penumpang, tapi juga dunia usaha. Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan pemerintah terlambat dalam mengembangkan Soekarno-Hatta sehingga penumpukan tidak terhindarkan.
“Kita terlambat dalam pembangunan infrastruktur bandara. Selayaknya kita harus buat airport baru atau perbesar atau tambah runway," kata Sofjan.
Arif Wibowo, Ketua Umum Indonesia National Carriers Air Assosiation (Inaca), mengatakan kepadatan di bandara menyebabkan perusahaan penerbangan harus menanggung biaya lebih banyak. “Kalau 20 menit delay saja, itu cost-nya bisa sampai US$ 1.000 atau Rp 10 juta. Itu bicara 20 menit,” keluhnya.
Salah satu upaya yang akan ditempuh untuk mengurangi kepadatan di Soekarno-Hatta adalah dengan memperluas Terminal 3 (domestik). Angkasa Pura II selaku pengelola bandara Soekarno-Hatta sebenarnya telah memulai proyek yang menelan dana Rp 4,7 triliun tersebut.
Rencananya pembangunan akan selesai pada 2015, dan nantinya Terminal 3 akan mampu menampung 25 juta penumpang per tahun dari kapasitas saat ini yang 4 juta penumpang. "Sejauh ini on progress. Kami optimistis bisa selesai sesuai dengan target, bahkan awal 2015 semoga dapat dioperasikan," kata Daryanto, Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura II.
Upaya lain adalah mengoptimalkan bandara Halim Perdanakusumah. Langkah ini sudah diujicobakan ketika penerbangan haji 2013. Rencananya mulai tahun depan sebagian penerbangan akan dialihkan ke bandara Halim Perdanakusumah untuk mengurangi beban Soekarno-Hatta.
Juniman, Kepala Ekonom BII, menilai pemanfaatan Halim Perdanakusumah bisa menjadi solusi sementara untuk mengatasi masalah kelebihan beban Soekarno-Hatta. “Nantinya akan ada lonjakan lagi, dan Halim juga akan sulit menampung,” ujarnya.
Oleh karena itu, perluasan Soekarno-Hatta bisa menjadi solusi yang lebih permanen. “Runway ditambah menjadi empat, sekarang kan hanya dua. Itu mungkin bisa mengatasi masalah penumpukan pesawat yang akan take off atau landing,” katanya.
(DES/DES)











































