“Airport Kertajati kita harapkan bisa selesai secepat mungkin, sebelum ASEAN Open Market harus sudah bisa beroperasi,” kata Edib Muslim, Kepala Divisi Komunikasi Publik dan Promosi Sekretariat Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI).
Bandara Kertajati, lanjut Edib, akan memiliki luas 1.800 hektare dan mampu menampung delapan juta penumpang pada tahap awal. Nantinya bandara ini bisa terus dikembangkan hingga mampu menampung 24 juta penumpang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nantinya di kawasan bandara Kertajati akan dibangun smart aero city, yaitu kota terintegrasi yang ramah lingkungan dengan luas mencapai 5.000 hektare. Di kawasan ini akan didirikan kluster perdagangan dan industri. Bandara akan menjadi pusat penghubung yang menghubungkan kota pintar ini dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi lainnya di Indonesia.
“Ini akan menjadi kota perdagangan dan industri yang berorientasi masa depan. Airport sendiri hanya menjadi instrumen pendukung. Bukan hanya untuk kota itu, tetapi juga instrumen pendukung ibukota negara,” tutur Edib.
Akses menuju bandara Kertajati, tambah Edib, pemerintah menyiapkan jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu). Jalan tol ini diperkirakan selesai tahun depan.
Bandara Soekarno-Hatta, kata Edib, tetap akan mencapai batasnya meski nanti selesai diperluas. “Harus memperhatikan daya dukung Jakarta. Ada masalah kemacetan, loading-unloading, dan sebagainya. Apa mau terus membangun di Jakarta, kan tidak begitu,” katanya.
Alvin Lie, pengamat penerbangan, mengatakan keberadaan bandara Kertajati harus memperhatikan kebutuhan penumpang. “Apakah orang-orang Jakarta mau ke Majalengka? Kalau tidak mau, sama saja penumpang akan tetap menumpuk di Soekarno-Hatta,” katanya.
Oleh karena itu, Alvin memperkirakan bandara Kertajati kemungkinan hanya akan dimanfaatkan oleh calon penumpang dari kota-kota sekitar Majalengka seperti Bandung. “Kalau orang Jakarta disuruh ke sana, sepertinya susah,” ujarnya.
Alvin juga meragukan akses tol Cisumdawu bisa selesai sesuai target. Saat ini, penyelesaian ruas jalan tol tersebut masih sekitar 55 persen. “Lagipula, apakah tol ini nantinya tidak macet seperti tol Sedyatmo?” tegas Alvin, yang pernah menjadi anggota Kaukus Penerbangan DPR.
(DES/DES)











































