Roti dan Mi Instan Makin Digemari, Impor Gandum Capai Rp 50 Triliun

Roti dan Mi Instan Makin Digemari, Impor Gandum Capai Rp 50 Triliun

Wiji Nurhayat - detikFinance
Kamis, 28 Nov 2013 18:12 WIB
foto:reuters
Jakarta - Kebutuhan gandum di dalam negeri terus meningkat setiap tahun bahkan mencapai nilai triliunan rupiah. Menteri Koordinar Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan impor gandum dan turunannya ke Indonesia per tahun bisa mencapai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 50 triliun.

Permintaan gandum yang melonjak disebabkan karena tumbuhnya kelas menengah atas suka mengkonsumsi roti, yang bahan bakunya gandum. Selain itu, masyarakat bawah juga memberikan kontribusi karena gemar mengkonsumsi mie instan berbahan dasar terigu dari gandum.

"Karena selama ini kelas menengah kita anak muda kita suka makan roti, sedangkan masyarakat bawah kita makan Indomie jadi semuanya gandum," kata Hatta Rajasa saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Kamis (28/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menekan impor gandum yang luar biasa tersebut, pemerintah melakukan pilot project atau uji coba penanaman gandum tropis di Tanah Air. Langkah konkretnya antaralain kerjasam Universitas Andalas, Padang dengan salah satu perusahaan Slovakia, OSIVO soal penanaman gandum di Sumatera Barat.

"Bahwa 3 tahun research antara Universitas Andalas dengan CEO Osivo dari Slovakia menghasilkan : 1. Gandum bisa ditanam di sini. Ada 4 jenis yang akan dikembangkan dan bisa ditanam di Indonesia dengan yield yang bagus dan mereka sekarang masuk ke tahap kedua adalah mulai mengembangkan dan tahap ketiga komersialisasikan. Saya minta diteruskan dan ini kita bisa tindak lanjuti sekarang ini dalam pilot project," imbuhnya.

Hatta belum berani memastikan kapan konsep penanaman gandum massal bakal mulai dilakukan di Indonesia Namun Hatta mengatakan upayanya ini adalah untuk meredam impor gandum yang jumlahnya cukup besar. Indonesia masih ketergantungan impor gandum salah satunya dari Australia dengan porsi 50% dari total kebutuhan.

"Sekarang ini masih (mau tanam gandum) di Sumatera Barat. Dari sekian banyak jenis gandum ada 4 yang bisa ditanam di daerah tropis. Namun juga bisa di dalam musim kering dan musim hujan dengan pola selang-seling. Nanti setelah pilot project gede-gedean wong kita impor US$ 5 miliar/tahun, impor kita segitu kalau kita tanam gandum di Papua dan Sumatera Barat, Sumatera Utara bisa mengurangi ketergantungan impor secara bertahap," katanya.

Hatta pernah mengatakan jika produksi gandum di Indonesia bisa berjalan maka masalah ketergantungan Indonesia dengan impor gandum bisa dikurangi. Berdasarkan proyeksi, tahun 2020 impor gandum Indonesia akan tembus 10 juta ton per tahun, sementara di 2011 mencapai 6,3 juta ton dengan nilai US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 25 triliun.

Rencana penanaman gandum secara massal menggunakan gandum Slovakia, telah dimulai awal tahun lalu melalui penelitian Kampus Nitra dan Andalas bersama perusahaan Slovakia, OSIVO. Telah diuji 11 varietas gandum asal Slovakia, untuk mengetahui gandum mana yang cocok ditanam di Indonesia. Hasil uji menunjukan hanya empat varietas gandum yang cocok di Indonesia yaitu SO-3, SO-8, SO-9 dan SO-10.

Seperti diketahui Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) telah melakukan pengembangan gandum tropis sejak tahun 2000 lalu. Pakar pangan dari India, Nagarajan pada tahun 1999 telah memperkenalkan varietas gandum tropis di Indonesia.

Lokasi penelitian pengembangan gandum tropis misalnya di dataran menengah seperti Karanglo Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah dan dataran tinggi Kopeng Salaran dan Piji Salatiga Jawa Tengah.

Hasilnya diketahui tanaman gandum tropis bisa diserang hama kutu daun, ulat pemakan malai, ulat penggerak batang, ulat tanah, dan orong-orong. Sementara tanaman gandum bisa diserang penyakit tanaman yaitu bercak jerawat hitam, penyakit layu, dan kudis malai.

Penanaman gandum di Indonesia sudah dimulai pada awal abad 20 secara terbatas di Jawa yaitu di Pengalengan, Dieng, Tengger, dan Amanumbang. Luas tanaman gandum di Indonesia tak pernah berkembang dan tak pernah melampaui luas lahan 2.000 hektar per tahun, saat ini bahkan saja tersisa beberapa hektar saja.

(wij/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads