Pembuat Alat Penghemat Listrik Ini Curhat Susah Cari Modal

- detikFinance
Sabtu, 30 Nov 2013 12:36 WIB
Foto: Bambang Sugiyanto (Wiji-detikFinance)
Jakarta - Mendapatkan akses pinjaman modal dari perbankan memang cukup sulit. Ditambah aturan yang berbelit-belit menjadi batu sandungan pengusaha untuk berkembang.

Penemu sekaligus pengembang Home Electric Saver Bambang Sugiyanto menceritakan hal itu kepada detikFinance. Penemuan hebatnya pun diawali oleh keberanian mengeluarkan kocek pribadinya sebesar Rp 5 juta.

"Sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah. Dulu pernah dirujuk ke salah satu bank tetapi tidak jadi karena aturan yang berbelit. Akhirnya tetap saya menggunakan dana pribadi untuk mengembangkan alat Home Electric Saver," ungkap Bambang saat berbincang dengan detikFinance di Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) Epiwalk, Kuningan Jakarta Selatan, Jumat (30/11/2013).

Home Electric Saver sebuah alat mini yang dapat memaksimalkan daya listrik sekaligus menghemat listrik hingga 30%.

Hebatnya lagi, alat ini tidak melanggar ketentuan oleh PT PLN (persero). Legalitas produk ini sudah sesuai dengan SK Menteri PU No. 23/PRT/78 tentang alat sejenis kapasitor bank. Alat. Ini juga merujuk pada instruksi Presiden RI No 10/2005 tentang penghematan energi.

Alat ini sudah dikembangkan sejak tahun 2005. Dalam kurum waktu itu, sudah ada sekitar 500 ribu unit alat yang terjual. Bambang kini menjual 3 tipe alat penghemat listrik yaitu untuk daya 450-1300 watt seharga Rp 300 ribu/unit, daya 2.200-4.400 watt seharga Rp 400 ribu/unit dan daya 5.500-8.800 watt seharga Rp 500 ribu/unit.

Produk Bambang sudah diamini oleh PT Telkom. Bahkan Telkom telah menandatangani kontrak kerjasama dengan Bambang untuk menyediakan alat penghemat listrik di 57 gedung kantor cabang Telkom. Bahkan produk ini sudah dilirik oleh negara jiran Malaysia.

Bambang mengatakan, rencana meminjam dana dari perbankan adalah keinginannya untuk mengembangkan bisnisnya ke depan. Selain itu, ia juga ingin agar produk Home Electric Saver buatannya terus berkembang dengan inovasi dan teknologi baru.

"Saya mau bikin satu pengembangan usaha tidak hanya dari pameran ke pameran, awal tahun depan penjualan langsung. Saya juga sudah mempunyai keinginan untuk mengembangkan terus produk ini," tambahnya.

Dengan keterbatasan yang ada, ia mengaku terbatas dengan usahanya yang berskala UKM. Ia hanya mengandalkan pendapatan penjualan untuk menghidupi bisnis yang ia tekuni selama 8 tahun terakhir dengan keterlibatan 7 orang pekerja.

"Terbatas dengan pendapatannya yang Rp 10-12 juta saja per bulan," cetusnya.

Untuk itu, ia sempat menulis sedikit kata di secarik kertas meminta perhatian pemerintah khususnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pengestu.

"Kepada produk kami harapan saya usaha kreatif kami dapat dibantu permodalan agar berkembang besar, salam B Sugiyanto," begitu tulisan Bambang Sugiyanto yang dititipkan kepada detikFinance.

(wij/dnl)