Tercatat pada tahun 2012, ada 57 juta penumpang domestik dan internasional terbang melalui Bandara Soekarno-Hatta. Sehingga kapasitas Bandara ini telah melebihi daya tampung normalnya hingga 150%. Pada tahun 2013 diproyeksikan ada 63 juta penumpang bakal datang dan pergi dari Bandara Soetta.
“Bandara Soetta kapasitasnya sudah nggak bisa menampung. Itu memang kesalahan AP II. Sekarang kita sudah ketinggalan dari kapasitas 22
juta sekarang sudah 57 juta. Itu tahun 2012 loh. 2013 kita belum dapat datanya. Mungkin sekitar 62 juta itu bisa kecapai di 2013 padahal kita kapasitasnya 22 juta,” ucap Direktur Utama PT Angkasa Pura II (AP II) Tri Sunoko saat berbincang dengan detikFinance di Kantor Pusat AP II, Cengkareng, seperti dikutip Senin (2/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Rencana 2015 pertengahan. Tapi mau kita coba 2014 kuartal III. Itu bisa beroperasi secara bertahap. Dibangunnya terminal 3, baru tambah 25 juta. Itu 22 juta tambah 25 juta jadi 47 juta,” jelasnya.
Tri mengakui kapasitas tambahan terminal ini dinilai belum mampu mendukung laju pertumbuhan penumpang yang mencapai 10%-13% per tahunnya. Untuk
mensiasati hal tersebut, AP II akan mengebut pengembangan program bangunan terintegrasi dan renovasi terminal 1 dan 2.
Harapannya paling lambat pada tahun 2017, proyek pengembangan Bandara Soekarno-Hatta selesai. Saat selesai, kapasitas penumpang diproyeksikan bisa meningkat hingga 70 juta penumpang per tahun.
“Di dalamnya terminal 3 sedang dibangun, terminal 1-2 kita revitalisasi. Sekarang dalam tahan DED (Detail Engineering Design). Terminal 1 dan 2 ada integrated building. Integrated building ada parkir dan komersial tentunya. Ada stasiun dan beroperasi dari Tangerang di 2015,” sebutnya.
Integrasi juga terjadi untuk akses menuju ke dan dari bandara, antaralain dukungan dari Jasa Marga soal pengoperasian tol JORR I dan II. Harapannya pada 2016-2017 integrasi di dalam bandara dengan akses menuju bandara sudah tercapai.
Diakui Tri untuk pengembangan dan penataan Bandara Soekarno-Hatta tidak mungkin hanya dilakukan sendiri oleh AP II. Harus ada dukungan dari
pemerintah daerah dan pusat seperti soal pembebasan lahan, termasuk keterlibatan maskapai penerbangan dalam pengaturan jadwal penerbangan.
“Ini bukan tanggung jawab AP sendiri. Sama-sama kita mikirkan. Nggak mungkin saya sanggup juga. Biaya nggak kecil. Saya hanya bisa tetapkan
100 juta (tambahan terminal 4) dengan catatan lahan sudah dibebaskan. Kalau nggak hanya 70 juta. Itu akan saya declare itu. Saya harus tentukan sikap,” katanya.
(hen/hen)










































