Pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam sejak pukul 09.00 WIB ini merupakan pertemuan perdana kedua orang ini, karena Badre baru saja terpilih bulan lalu.
Badre menuturkan, pertemuan dengan Chatib lebih kepada perkenalan. Menurutnya Indonesia penting untuk didatangi, mengingat hubungan yang cukup erat selama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembicaraan keduanya tidak terlalu spesifik. Setidaknya hanya seputar dampak gejolak global terhadap negara berkembang termasuk Indonesia.
"Kita membahas perekonomian global. Dampak ke emerging market, dampak seperti untuk Indonesia itu saja. Kita tidak membahas topik yang terlalu spesifik," sebutnya.
Badre mengingatkan, negara berkembang seperti Indonesia tidak perlu khawatir terhadap gejolak ekonomi global yang terjadi. Karena masih ada dua negara seperti Jepang dan negara kawasan Eropa yang masih akan mengeluarkan stimulus. Bank Dunia juga akan terus membantu dengan dukungan terhadap Indonesia.
"Bank Dunia bekerjasama dengan emerging market untuk memandu proses, bukan hanya dukungan finansial, tapi juga memposisikan diri kita agar dapat memberikan lebih banyak dukungan. Saya ingin meningkatkan kapasitas finansial dari emerging market tapi juga menyediakan pendampingan dan dialog dengan otoritas di Indonesia," terangnya.
Di samping itu, menurutnya, reformasi struktural pada internal negara tetap harus dilakukan mulai dari sekarang. Seperti pembenahan dari fiskal dan kebijakan-kebijakan yang mendukung perekonomian agar lebih sehat.
"Kita saat ini ada di the beginning of the end of crisis. Jadi emerging market akan stabil dan harus tetap menjaga pertumbuhan. Ini tantangan. Salah satu kunci elemen tappering (pengurangan stimulus di AS). Adalah aturan untuk mebuatnya menjadi normal," ujarnya.
Dalam agendanya di Indonesia, Badre juga akan mengunjungi Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Ketua DK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Haddad, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendraa Siregar.
(mkj/dnl)











































