Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung mengatakan, rencana bank sentral AS yaitu Federal Reserve atau The Fed untuk mengurangi stimulusnya (tappering off), menjadi salah satu tantangan berat Indonesia tahun depan. Ditambah lagi, perlambatan pertumbuhan ekonomi di China dan India.
"Ini satu hal dari AS, di negara seperti China dan India pertumbuhan ekonominya menurun signifikan. China tumbuh 7 sekian persen sudah kecil, biasanya 10%, India 4,4%. Kecilnya pertumbuhan China dan India mengubah struktur ekspor kita. Terjadi penurunan demand (permintaan ekspor) komoditas kita. Ekspor kita terganggu karena ekspor kita mayorutas berbasis sumber daya alam. Ini faktor tantangan di 2014," kata pria yang akrab disapa CT pada acara prospek ekonomi Indonesia 2014 di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (3/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan income (penghasilan masyarakat) dan demand (permintaan barang) nggak diikuti kenaikan produksi yang cukup. Produksi di dalam negeri yang besar bisa gerakan ekonomi. Itu bisa jadi ekonomi besar. Namun peningkatan demand masih diikuti impor besar. Di pertanian, kita impor daging yang besar. Masyarakat sejahtera, gaya hidupnya tinggi. Dari banyak makan beras jadi makan banyak protein," jelasnya.
Tantangan selanjutnya untuk perekonomian Indonesia tahn depan adalah periode tahun politik. Investor biasanya masih melihat proses pemilu dan calon presiden yang bakal terpilih sebelum menanamkan investasinya.
"Apakah pemilu jalan baik, aman, atau berjalan dengan tidak aman. Mereka tunggu lakukan realisasi. Mereka tunggu siapa pemimpin Indonesia. Apakah dia pro pasar, concern perekonomian kita atau tidak mengerti ke perekonomian kita. Ini pengaruh keputusan investor," sebutnya.
Setelah CT memberi pemaparan, dalam acara tersebut Menteri BUMN Dahlan Iskan ikut memberikan pandangan dari sisi BUMN. Sementara Sofjan Wanandi memberikan pandangan ekonomi 2014 dari sisi pengusaha nasional.
(hen/dnl)











































