Spanyol Krisis Berkepanjangan Gara-gara Korupsi

Spanyol Krisis Berkepanjangan Gara-gara Korupsi

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Rabu, 04 Des 2013 11:36 WIB
Spanyol Krisis Berkepanjangan Gara-gara Korupsi
Bursa Saham di Spanyol
Jakarta - Korupsi adalah kegiatan yang sangat berbahaya. Selain merugikan masyarakat, korupsi juga bisa menyeret negara masuk krisis berkepanjangan, seperti yang terjadi pada Spanyol dan Yunani.

Korupsi sudah jadi biang krisis finansial di dua negara tersebut. Yunani sudah berusaha membersihkan praktik korupsi setelah diberi dana bantuan oleh Uni Eropa, tapi Spanyol malah sebaliknya.

Korupsi yang terjadi di Spanyol kian parah. Hal ini terlihat dari peringkatnya yang naik di daftar negara paling korup yang dikeluarkan Transparency International (TI). Spanyol kini berada di posisi yang sama dengan Libya dan Mali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudah bukan rahasia lagi kalau masyarakat kelas atas dan petinggi di Spanyol terlibat dalam aneka praktik korupsi. Kasus-kasus ini bahkan sampai menjadi bahan pergunjingan negara-negara di Eropa lainnya samai ke seluruh dunia.

Bahkan keluarga kerajaan Spanyol saja terlibat dalam aksi korupsi. Salah satu menantu Raja Spanyol baru-baru ini dituntut pengadilan karena menggelapkan dana publik sebesar 6 juta euro (Rp 72 miliar).

Menantunya yang menjabat sebagai bendahara salah satu partai di Spanyol itu sudah mengakui menilap sejumlah uang proyek dari perusahaan konstruksi kepada sejumlah politisi di partainya.

"Skandal-skandal seperti ini yang sangat merusak reputasi Spanyol di dunia," kata Koordinator TI wilayah Eropa Barat Valentina Rigamonti, seperti dikutip dari Independent.co.uk, Rabu (4/12/2013).

"Pemberantasan korupsi yang dilakukan selama ini belum apa-apa. Masyarakat Spanyol juga merasa korupsi ini masih banyak dilakukan," imbuhnya.

Seperti diketahui ekonomi Spanyol masih belum membaik sejak terjadinya krisis ekonomi global pada 2008 silam. Krisis ini membuat sistem perbankannya membutuhkan kucuran dana bantuan dari Uni Eropa.

Tingkat pengangguran di Spanyol pun semakin tinggi mencapai 4,7 juta jiwa. Totalnya sekitar 26,3% dari jumlah penduduk. Saking susahnya mencari kerja, banyak anak muda Spanyol yang jadi imigran dan rela bekerja jadi pencuci toilet.

Situasi semakin buruk dengan adanya 10.000 perusahaan Spanyol yang mendaftarkan kebangkrutan. Perusahaan yang mengantre untuk divonis bangkrut itu tidak hanya UKM, tapi juga perusahaan besar berorientasi ekspor.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads