Alasannya, biaya operasional yang dikeluarkan oleh maskapai tidak sebanding dengan frekuensi penerbangan yang terbatas di Bandara Halim.
"Hanya 2 flight atau penerbangan (per jam) dengan perpindahkan personel dan peralatan ke Halim menurut perhitungan maskapai merugi," ucap General Manager PT Angkasa Pura II Bandara Halim Iwan Khrishadianto kepada wartawan di Bandara Halim, Jakarta, Kamis (5/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bandara Halim hanya menerima penugasan pengalihan beberapa frekuensi penerbangan dari Bandara Soetta. "Halim hanya menerima saja. Itu yang tentukan Dirjen Perhubungan Udara," jelasnya.
Ditambahkan Iwan, hingga saat ini sudah ada 9 maskapai yang berminat terbang dari Bandara Halim.
Adapun 9 maskapai yang mau masuk ke Bandara Halim antara lain adalah Citilink, Garuda Indonesia, Kalstar, Sky Aviation, AirAsia, Jatayu, Lion Air atau Batik, Mandala Airlines.
Mengenai keputusan final perizinan berada di tangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) selaku regulator penerbangan. Setelah izin keluar, nantinya maskapai tersebut akan take off dan landing mulai 10 Januari 2014.
(hen/dnl)










































