Survei yang dilaksanakan dari Juli hingga Oktober 2013 ini melibatkan 3.000 responden di daerah perkotaan (urban) di Jabodetabek, Surabaya, Medan, Balikpapan, Makassar dan daerah pedesaan (rular) di wilayah Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Kalimantan Barat.
Deputy Managing Director Kadence International, Rajiv Lamba mengatakan survei ini dilakukan untuk memahami pola pendapatan dan pengeluaran masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rajiv menjelaskan, dari survey yang dilakukan dengan metode metode face to face random sampling dan telephonic interviews ini didapat hasil bahwa lebih dari seperempat masyarakat Indonesia masuk dalam kategori broke, dimana pengeluaran mereka lebih besar 35% daripada total pendapatan.
Hasil riset Kadence menemukan dan membagi masyarakat Indonesia berdasarkan pola menabungnya dalam empat segmen:
- Deep Pockets (21%): kelompok yang menabung lebih dari Rp 2 juta per bulan dari penghasilannya.
- Pragmatic (17%): kelompok yang menabung sebesar Rp 1 juta - Rp 2 juta per bulan dari penghasilannya.
- On Edge (33%): kelompok yang menabung sebesar Rp 0 - Rp 1 juta per bulan dari penghasilannya.
- Broke (28%): kelompok yang pengeluarannya lebih besar dari pendapatan, sehingga mengalami defisit hingga rata-rata sebesar 35%.
"Segmen Broke ini bukan berarti miskin atau tidak mampu, mereka justru berpenghasilan di atas kelas On edge namun memiliki gaya hidup yang menuntut mereka untuk mengeluarkan uang lebih banyak," kata Rajiv.
Segmen broke membelanjakan pengeluaran lebih banyak dalam hal liburan, arisan, perawatan rumah, dan membayar cicilan/utang.
Hasil riset Kadence juga menunjukkan bahwa masyarakat akan membelanjakan 24% dari total pendapatannya untuk membeli makanan dan minuman, 19% untuk biaya sewa, listrik, dan air, 17% untuk pakaian dan hiburan, 8% untuk produk kebutuhan rumah tangga (elektronik dan furniture), 7% untuk obat-obatan dan produk perawatan badan, 6% untuk membayar cicilan dan asuransi, 5% untuk tunjangan kepada orang tua, 5% untuk perawatan rumah dan kendaraan serta 3% untuk amal atau bersedekah.
"Dengan semakin meningkatnya urbanisasi, pola konsumsi masyarakat pedesaan semakin serupa dengan masyarakat perkotaan, namun dalam jumlah yang lebih sedikit. Masyarakat perkotaan memiliki total pengeluaran rata-rata sebesar Rp 4,4 juta per bulan, sementara rata-rata pengeluaran masyarakat pedesaan per bulan adalah sebesar Rp 3,7 juta," kata Rajiv.
(dru/dru)










































