Hal ini diungkapkan oleh Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby R.Mamahit dalam berdiskusi bertema Kebijakan Transportasi Laut Dalam Memberikan Kontribusi Terhadap Pertumbuhan Laju Perekonomian Nasional di Ruang Banda Hotel Borobuddur Jakarta, Senin (9/12/2013).
"Kalau dilihat dari volume yang terus meningkat, kondisi Tanjung Priok saat ini memang sudah semrawut karena dengan banyaknya muatan di sana, maka kegiatan semakin bertambah. Tetapi bukan alasan kita berhenti mengembangkan Priok," ungkap Robby.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanjung Priok paling besar, 60% kapasitas peti kemas ada di sana. 40% itu dibagi-bagi baik Pelabuhan Pulau Belawan, Batam dan Makassar," imbuhnya.
Untuk itu salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membangun Pelabuhan New Tanjung. Pelabuhan New Tanjung Priok atau Kalibaru dibangun untuk menopang besarnya arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok.
"Sehingga dikembangkan New Tanjung Priok untuk menopang pelabuhan ekspor impor," imbuhnya.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan 3 Pelabuhan Utama yaitu Batam, Belawan dan Makassar. Selain itu, pemerintah juga bakal mengembangkan pelabuhan penunjang seperti Tanjung Mas (Semarang) dan Tanjung Perak (Surabaya).
Semua ini dilakukan agar kapasitas sarana dan prasaran transportasi laut bisa dilakukan untuk mengurangi backlog dan bottleneck kapasitas infrastruktur transportasi laut di pelabuhan.
"Pengembangan Pelabuhan Surabaya kita lakukan seperti pengembangan Teluk Lamong. Lalu di Pelabuhan Semarang ada tambahan lintas peti kemas selebar 350 meter. Tentunya ini kita lakukan untuk bisa mengantisipasi pelabuhan yang ada di Indonesia," katanya.
(wij/ang)










































