Untuk merealisasikan pembangunan proyek ini, maka akan dibuka seluas-luasnya pendanaannya dari investasi asing. Namun setiap proyek-proyek tersebut memiliki skema yang berbeda.
"Kita masih memerlukan juga peranan asing. Di Amerika banyak pelabuhan yang dikelola asing. Tentunya untuk membangun diperlukan investasi sedangkan beban negara terbatas untuk membangun pelabuhan baru. Kita harus bisa memastikan kendali tetap dipegang kita," kata Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby R. Mamahit dalam diskusi 'Kebijakan Transportasi Laut Dalam Memberikan Kontribusi Terhadap Pertumbuhan Laju Perekonomian Nasional' di Ruang Banda Hotel Borobudur Jakarta, Senin (9/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam hal pembangunan sistemnya pemerintah dan swasta bukan swasta ke swasta. Di dalamnya ada konsesi pengembalian kepada negara. Ini dibangun untuk kepentingan masyarakat. Daripada kita menunggu dari pada tidak ada perusahaan yang mau," imbuhnya.
Beberapa investor asal Timur Tengah, Jepang dan China pun sudah melirik rencana pemerintah ini. Bobby mengklaim, cara ini dinilai sangat menguntungkan terutama mencukupi kebutuhan pelabuhan di Indonesia yang cukup tinggi.
"Tetapi kita terbuka kok, kita bersaing. Kalau kita tutup dan nggak ada terus siapa yang mau. Yang penting transfer of knowledge. Keuntungannya mereka (investor) itu membawa mitra mereka, contoh Dubai Port, Port of Rotterdam, dan Port of Yokohama," katanya.
"Mereka punya pangsa yang mereka bawa. Begitu dibangun manajemennya akan mereka kendalikan sama dengan sistem yang ada di negara mereka. Contohnya untuk Cilamaya, Kuala Tanjung tetapi tidak untuk pelabuhan kecil. Jadi lebih mempercepat, kalau APBN cukup berat kan. Ada juga investor TFE Singapura dan mereka besar," jelasnya.
(wij/hen)











































