Vongsinudom adalah bos di PTT Global Chemical, perusahaan petrokimia terbesar di Thailand. Dia punya prediksi. βKami melihat bahwa masalah politik kemungkinan berpengaruh kepada bisnis pada tahun depan,β katanya, kepada kantor berita Reuters, kemarin.
Gelombang aksi demonstrasi kembali memanaskan negeri Gajah Putih. Kali ini para demonstran menuntut pembubaran pemerintah dan membentuk dewan rakyat sebagai kuasa pemeritahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thaksin Shinawatra adalah mantan perdana menteri yang juga kakak kandung Yingluck. Kelompok Suthep ini membentuk pemerintahan sementara yang disebut Dewan Rakyat yang berisikan orang-orang non partisan. Setelah itu, rencana mereka, Thailand akan menggelar pemilihan umum.
"Rakyat pemilih tidak tahu bagaimana Yingluck bekerja, karena dia hanya mendengarkan suara kakaknya lewat telepon. Dia menjadi boneka,β tegas Suthep.
Menghadapi gelombang aksi besar-besaran, Yingluck merespons dengan mengajukan pembubaran parlemen dan mempercepat pemilu. βPemerintah tidak ingin negara dan rakyat menderita. Menyerahkan mandat kepada pemberi suara sejalan dengan prinsip demokrasi,β kata Yingluck.
Gelombang demonstrasi massa sepertinya tidak pernah lepas dari Thailand dalam beberapa tahun terakhir. Thaksin digulingkan oleh militer setelah terjadi demonstrasi yang cukup lama pada 2006.
Pendukung Thaksin (dikenal dengan sebutan Kaus Merah) balik menggulingkan perdana menteri kala itu, Abhisit Vejjajiva, pada 2010. Kaus Merah kemudian membawa Yingluck ke kursi perdana menteri pada 2011. Kini, giliran posisi Yinglluck yang digoyang.
Akibat peristiwa ini, ekonomi Thailand pun terpengaruh. Sejak pertengahan November, nilai tukar baht cenderung melemah. Pada 14 November, baht diperdagangkan di level 31 baht per dolar Amerika Serikat (AS), dan mengalami tren depresiasi hingga pada penutupan 9 Desember menjadi 32,12 baht per dolar AS.
Vongsinudom pun cemas. Padahal, perekonomian Thailand masih bercokol di nomor dua di Asia Tenggara setelah Indonesia. Jika bergejolak terus, Vongsinudom menilai Thailand perlu waspada.
Apalagi ada sejumlah masalah lain dalam dunia usaha. Ekspor, yang menyumbang sekitar 60 persen ekonomi di Thailand, tengah melambat akibat perekonomian dunia yang masih lesu. Thailand juga menggantungkan perekonomian mereka kepada sektor pariwisata.
Akibat gelombang protes besar-besaran, bulan ini saja Thailand kehilangan sekitar 16 juta baht akibat pembatalan kunjungan turis.
Gelombang protes juga sedkit banyak membatasi kerja pemerintah. Diperkirakan sekitar 2 juta baht belanja pemerintah terhenti.
βDua hal yang sangat penting yaitu belanja infrastruktur pemerintah dan sektor pariwisata sudah merasakan dampaknya. Padahal dua faktor tersebut akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Thailand,β kata ekonom Credit Suisse, Santitarn Sathirathai, dalam risetnya.
(hds/DES)











































