Namun letupan-letupan tersebut nyatanya tidak membuat perekonomian Thailand benar-benar terpuruk. Pasca ketegangan mereda, perekonomian Negeri Gajah Putih selalu mampu bangkit dan menguat.
Misalnya pada April-Mei 2010, di mana terjadi demostrasi massal untuk menurunkan Abhisit Vejjajiva dari kursi perdana menteri. Kala itu, demonstrasi yang berujung pada kerusuhan menyebabkan puluhan orang kehilangan nyawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wisatawan pun kembali mengisi kota dan pantai-pantai, dengan pertumbuhan 12 persen. Apa yang membuat kinerja ekonomi Thailand tetap kinclong meski kerap dilanda kisruh politik?
“Sebagian besar investasi tidak berada di Bangkok, sehingga dampak dari gelombang protes tidak terlalu terasa. Thailand tetap akan menjadi tujuan investasi yang menarik dalam jangka panjang,” kata Teeranan Srihong, Presiden Kasikornbak Pcl, salah satu lembaga keuangan besar di Thailand seperti dilansir kantor berita Reuters.
Selain itu, Thailand juga memainkan peran penting dalam rantai pasokan global terutama di bidang otomotif. Keunggulan ini membuat Thailand tetap dilirik para investor.
Dari sinilah negara ini memperoleh julukan Teflon Thailand. Layaknya bahan penggorengan tersebut, Thailand dinilai tahan terhadap suhu panas.
Viboon Komadit, Chief Marketing Amata Corporation yang merupakan kawasan industri terbesar di Thailand, mengatakan investor pada umumnya sudah bersiap menghadapi badai politik di negara tersebut.
“Kita sudah menjadi saksi gejolak politik selama beberapa tahun terakhir. Investor tentu memahami bahwa ketidakpastian politik merupakan bagian yang tidak terlepas dari sistem demokrasi,” papar Komadit.
Rahul Bajoria, ekonom Barclays Capital yang berbasis di Singapura, mengemukakan hal senada. “Mereka yang mengikuti perkembangan di Thailand tentu memahami situasi yang terjadi sekarang. Namun saya tidak melihat dampak negatif yang signifikan,” katanya.
Thailand, lanjut Barjoria, sudah terbiasa menghadapi krisis politik dan terbukti mampu bangkit. “Ini memberi keyakinan pada investor. Julukan Teflon Thailand memang kerap kali terbukti,” ucapnya.
Meski demikian, Bajoria menyatakan bukan berarti tidak ada risiko yang menyelimuti Thailand. “Jika kemudian akan ada pemilu yang dipercepat, maka itu tentu akan menciptakan ketidakpastian. Dalam jangka pendek, orang akan cenderung berhati-hati,” tuturnya.
(hds/DES)











































