Pertamina: Bahan Bakar Elpiji Tidak Disubsidi Pemerintah
Rabu, 24 Nov 2004 15:27 WIB
Jakarta - PT Pertamina (Persero) menegaskan LPG (Liquified Petroleum Gas) merupakan bisnis yang tidak ditataniagakan dan terbuka bagi seluruh investor. Pasalnya LPG bukan bahan bakar yang disubsidi pemerintah. Kalaupun Pertamina tetap menggelutinya, pertimbangannya hanya bisnis semata sehingga wajar jika perusahaan saat ini berusaha untuk mendapatkan level harga jual LPG yang wajar. "Kami menjalankan bisnis LPG bukan atas penugasan pemerintah karena LPG bukan merupakan bahan bakar yang disubsidi. Walau demikian Pertamina sebagai BUMN tetap mempertimbangkan kondisi masyarakat sehingga kenaikan harga LPG akan dilakukan secara bertahap dan masih dibawah harga LPG yang berlaku international," kata juru bicara PT Pertamina (Persero) Mochamad Harun dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/11/2004).Dengan demikian, lanjut Harun, harga jual LPG sangat tidak relevan bila dibandingkan dengan minyak tanah yang disubsidi oleh pemerintah. Apalagi selama ini 69 persen konsumen LPG berasal dari sektor rumah tangga, 13 persen hotel berbintang dan 18 persen oleh industri. "Konsumen LPG merupakan konsumen kalangan menengah atas. Jadi yang sangat tidak adil bila mereka memperoleh subsidi dari Pertamina sebagai perusahaan milik negara. Oleh karena itu masalah LPG murni merupakan masalah bisnis dan tidak perlu serta tidak ada kaitannya dengan masalah politik," tegas Harun. Harun juga menjelaskan rendahnya harga jual LPG di Indonesia menyebabkan investor enggan menanamkan modalnya di sektor tersebut. "Untuk itu iklim usaha LPG perlu ditata ulang dengan menghilangkan barrier to entry dari investor agar masyarakat luas dapat memperoleh layanan LPG yang baik serta produsen memperoleh keuntungan yang memadai," katanya. Menyinggung mengenai potensi pasar LPG di Indonesia, menurut Harun, masih cukup menjanjikan dengan kecenderungan konsumsi yang terus meningkat. Konsumsi LPG telah mengalami peningkatan dari 83.000 metrik ton per bulan pada 2003 menjadi 100.000 metrik ton pada 2004.
(nit/)











































