"Indonesia juga belum menggali ekspor ke ASEAN. Tujuan ekspor kita masih besar ke pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang dan China," ungkap Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan Widodo saat membuka seminar Meningkatkan Daya Saing Dalam Pasar Bersama 2015 di Hotel Aryaduta Jakarta, Jumat (13/12/2013).
Terhitung mulai awal tahun hingga bulan Agustus 2013 ekspor produk Indonesia ke ASEAN baru 23% atau senilai US$ 22,7 miliar. Sedangkan total ekspor Indonesia secara keseluruhan dari bulan Januari hingga Agustus 2013 sebesar US$ 97,8 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Widodo, Asia memang diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi dunia baru yang disokong oleh negara-negara ASEAN, India dan China dengan nilai perdagangan diprediksi mencapai US$ 3,36 triliun dengan pertumbuhan 5,6% per tahunnya.
Di satu sisi penduduk ASEAN cukup besar yaitu sebesar 618 juta orang. Jumlah penduduk ASEAN yang besar ini diharapkan jadi peluang pelaku usaha Indonesia untuk menggenjot ekspor ke wilayah ASEAN.
"Ini peluang kita karena faktor ini yang mempunyai nilai strategis untuk mendorong ekonomi kita. Perkembangan global yang terus bergulir membuat ASEAN kokoh ekonominya," tuturnya.
Untuk meningkatkan kapasitas produk Indonesia dalam pasar bebas ASEAN, Indonesia telah menetapkan prioritas atas 12 sektor utama antara lain industri agro, elektronika, kesehatan, otomotif, tekstil, rubber, logistik, travel, wood, pariwisata dan transportasi udara. Sehingga peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk ke pasar ASEAN masih terbuka dan cukup besar.
"Dengan pembinaan daya saing yang tinggi tadi, kita bisa meningkatkan lagi pencapaian pendapatan negara. Karena peningkatan ekspor yang semakin besar. Berapa target penambahan ekspor ke ASEAN? kita masih perlu pendalaman dulu, sehingga kita bisa bicara," katanya.
(wij/hen)










































