Nenek Bermasker Penolak Pewangi

Jepang Dikepung \'Polusi \' Wangi (2)

Nenek Bermasker Penolak Pewangi

- detikFinance
Senin, 16 Des 2013 12:36 WIB
Nenek Bermasker Penolak Pewangi
Nenek Yuko Ozawa (inzet)
Jakarta - Yuko Ozawa, seorang pensiunan guru di Gidu, Honshu, Jepang, mengatakan wewangian itu tak ubahnya polusi. Dia bilang dirinya pernah dua kali hampir pingsan saat melintas melewati sekelompok perempuan yang wanginya bukan main.

Makanya Ozawa ini saban hari memakai masker gas untuk mencegah kejadian itu terulang. Tiga tahun lalu dia ikut mendirikan kelompok Society Demanding Fragrance Restraint. Tujuannya untuk mengingatkan orang bahwa ada yang alergi dan sensitif terhadap wewangian.

Nenek Ozawa ini menderita masalah pernafasan dan bahkan bisa pingsan kalau mencium pewangi buatan. Pemicu lain termasuk wangi sampo, kosmetik, dan parfum. "Anak-anak kecil melihat saya dengan aneh, ada yang sampai menangis ketakutan," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di pintu rumahnya Ozawa menempel kertas berisi peringatan. Dirinya tak segan-segan mengusir siapapun yang tubuhnya atau pakaiannya terlalu wangi.

Kantor Urusan Konsumen Nasional di Jepang mencatat, akhir-akhir ini semakin banyak orang yang melaporkan gejala penyakit akibat pewangi buatan pabrik. Sejak April lalu sudah ada 50 orang yang melaporkan masalah itu kepada mereka.

Kalau ada yang sampai sakit, lebih banyak pula yang kesal. Contohnya saja Yuko Kimura, warga suburban Tokyo. Saban pagi dia merasa hidungnya sakit mencium aroma pewangi pakaian yang tercium dari para penumpang kereta bawah tanah. Apalagi aromanya macam-macam.

“Pewangi makin kuat sekarang, bikin sakit kepala saja,” kata Kimura pada pekan lalu. “Saya hanya mau bernafas normal lagi.”

Di dunia maya, banyak juga blogger yang menuliskan keresahannya akan makin maraknya wewangian pakaian di Jepang. Sebagian menulis tip bagaimana mengurangi aroma wewangian dari pakaian.

Tipnya mulai dari menjemur pakaian dalam ruangan, bukan di luar. Lalu tak mencampurkan langsung pakaian ke dalam pewangi tapi cukup dengan menyapukan handuk yang sudah diberikan pewangi ke pakaian.

Sementara itu kelompok Japan Soap and Detergent Association meminta perusahaan pembuat pewangi pakaian mengurangi kadar pewangi. “Tolong hargai orang lain (yang tak menyukai wewangian itu),” ujar kelompok itu di Tokyo pada pekan lalu.

Pemerintahan di Gifu sendiri sudah mengeluarkan saran supaya warga tak memakai parfum dan hair tonic. Tapi pewangi pakaian buatan pabrik tampaknya sulit untuk ditolak. “Susah sekali,” kata Hiroshi Masukata, yang bekerja di kantor pemerintah setempat. “Istri saya selalu memakainya.”


(DES/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads