Gara-Gara Bau Badan Tuan Jepang

Jepang Dikepung 'Polusi ' Wangi (4)

Gara-Gara Bau Badan Tuan Jepang

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 16 Des 2013 16:18 WIB
Gara-Gara Bau Badan Tuan Jepang
Foto: Reuters
Jakarta -

Daijiro Karasawa, 49 tahun, sebelumnya kurang peduli akan dampak wewangian bagi orang lain. Sampai kemudian suatu hari, auditor ini menumpang shinkansen alias kereta peluru dan menyaksikan sebuah 'drama' kecil.

Karasawa menyaksikan dua mahasiswi tertawa sambil menutup hidung, ketika seseorang yang seusianya berjalan mendekat untuk mencari tempat duduk. Beberapa hari kemudian, Karasawa membeli cologne dan menyemprotkannya di pakaian dan di belakang telinga.

Karasawa kembali menumpang kereta api, dalam perjalanan antara Osaka dan Tokyo. “Saya orang yang bersih dan saya pikir saya tak bau,” katanya. “Tapi sekarang saya memakai pewangi supaya tak diperlakukan seperti orang itu.”

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Jepang, pemakaian parfum atau cologne memang tak seramai penggunaan pewangi pakaian. Umumnya pengguna parfum adalah pria berumur.

Tren di kalangan orang tua ini timbul setelah pembuat kosmetik terbesar di negeri Matahari Terbit itu, Shiseido, menemukan zat yang menyebabkan bau badan pada orang di usia lebih dari 40 tahun. Zat itu dinamai noneal.

“Data kami menunjukkan pria dan wanita berumur memproduksi jumlah noneal yang sama, tapi bau badan lebih tercium dari laki-laki, mungkin karena mereka kurang bersih,” kata Shoji Nakamura dari Shiseido, penemu zat itu.

Produk-produk semacam itu pun merebak dan diburu. “Biasanya dibeli pria 50 tahunan,” kata Kyoko Asakura, manager di toko obat Matsumoto Kiyoshi, di Ginza, Tokyo. “Mereka biasanya malu-malu bertanya apakah ada produk yang menghilangkan bau badan pria.”

Elizabeth Arden memasarkan Lip Lip Hooray, pewarna bibir yang mengandug asam citric. Asam ini, menurut perusahaan itu, dapat menetralisasi senyawa sulfur yang menyebabkan halitosis.

SSK Corporation menjual T-shirts yang mengandung serat deodoran. Tujuannya untuk menghilangkan bau badan ketika kaus itu terkena sinar ultraviolet.

Gunze, perusahaan pembuat pakaian dalam pria, melakukan survei dan mendapati bahwa 90 persen perempuan ingin kaum pria melakukan 'sesuatu' pada bau badan mereka.

Contoh saja Miki Ishimoto, mahasiswi berusia 21 tahun. Dia bilang kalau tak terpaksa tak akan mau memegang pegangan kereta bawah tanah yang habis dipegang pria tua. “Saya akan merasa terkontaminasi dan akan cepat-cepat cuci tangan,” katanya.

Koichiro Fujita, guru besar imunologi di Universitas Kedokteran dan Kedokteran Gigi Tokyo mengatakan orang Jepang itu 'budak wewangian'. “Perusahaan telah mencuci otak orang supaya takut pada bau badannya sendiri, yang sebetulnya alami dan sebagai penanda diri sendiri,” katanya.
 
Padahal, kata Fujita, terlalu bersih dan wangi juga akan mengurangi kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi dan bakteri. Bukunya, “Kebersihan Adalah Penyakit” laku 30 ribu kopi.

Harueko Kato, seorang sosiolog dari Tokyo Women's Christian University mengatakan sebaliknya. Menurutnya, sebelum adanya produk-produk anti bau badan itu, lelaki Jepang sudah terbiasa memakai tonik rambut yang wanginya luar biasa. “Lelaki Jepang hanya ingin lebih disukai,” ujarnya. 

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads