Ini Sikap Bos Pelindo II Hadapi Masalah Resign Massal Karyawan

Ini Sikap Bos Pelindo II Hadapi Masalah Resign Massal Karyawan

- detikFinance
Selasa, 17 Des 2013 10:55 WIB
Ini Sikap Bos Pelindo II Hadapi Masalah Resign Massal Karyawan
Jakarta -

1. Mengurus Pelabuhan Harus Keras

RJ Lino mengatakan persoalan pelabuhan di Indonesia sangat rumit. Sehingga diperlukan tindakan dan gaya kepemimpinan seorang yang berani dan keras untuk mengatasi permainan-permain kotor di pelabuhan.

Menurutnya kondisi manajemen pelabuhan di Indonesia saat ini, tak bisa ditangani oleh seorang Chief Executive Officer (CEO) operator pelabuhan dengan gaya kepemimpinan yang biasa.

"Nanti kalau sudah beres, Anda cari yang lebih soft, bukan kayak saya. Kalau itu mau dipilih, saya diganti saja nggak apa-apa," tegas Lino.

2. Tegas Terhadap Direktur Personalia dan Umum

Latar belakang resign massal bermula saat Lino sebagai dirut kehilangan rasa percaya terhadap Direktur Personalia dan Umum yang juga merangkap sebagai Direktur Keuangan Pelindo II Cipto Pramono.

Ketidakpercayaan itu akhirnya membuat dirinya harus mengambil sikap dengan jalan meminta rekannya itu untuk mengundurkan diri atau menginformasikan pelanggaran yang dilakukan kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Cipto menurutnya telah melakukan 2 pelanggaran yang menghilangkan rasa percayanya, pertama soal potongan arisan istri pekerja Pelindo II, dan kedua persoalan munculnya Serikat Pekerja (SP) pada acara resmi Pelindo II. Pada saat acara itu, SP banyak mengkritisi pengembangan Pelndo II namun Cipto sebagai direksi yang ada di lokasi tidak mengklarifikasi.

Lino menjelaskan setelah dipanggil, Cipto diberi pilihan, hingga akhirnya Cipto memilih mundur. Pengunduran diri ini selanjutnya dikuti oleh puluhan senior manager dan general manager hingga berjumlah 22 orang.

3. Minta Syarat Khusus Sebelum Pimpin Pelindo II

Ia sempat mengajukan 3 persyaratan kepada Menteri BUMN Sofyan Djalil waktu itu, saat ditunjuk menjadi pemimpin di BUMN operator pelabuhan tersebut..

Pertama, ia meminta diberi kekuasaan penuh menentukan direksi yang akan menjadi rekan kerjanya untuk membenahi dan mengelola pelabuhan seperti Pelabuhan Tanjung Priok. Alasannya karena bisnis pelabuhan memiliki banyak persoalan.

Kedua, mengubah porsi kewenangan direksi Pelindo II yang lebih fokus ke bidang pelayanan bukan keuangan. "Perubahan kekuasaan direksi. Keuangan 20%, 80% pelayanan. Kalau itu nggak diubah, saya nggak mau," sebutnya.

Ketiga, meminta pembatalan pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Niaga Bojonegara di Banten. Pembangunan awalnya dikonsep untuk mengantisipasi membludaknya kapasitas Pelabuhan Tanjung Priok.

4. Berani Bayar Gaji Tinggi Karyawan

RJ LinoΒ  menyebutkan gaji lulusan sarjana (S-1) di Pelindo II bisa mencapai Rp 14,5 juta per bulan. Menurutnya dengan gaji tersebut, menjadi yang tertinggi di Indonesia untuk level lulusan S1.

"Anak sarjana sudah 2 tahun diangkat. Tahun lalu dapat Rp 14,5 juta. Bapak nggak bisa cari perusahaan di Indonesia dengan gaji segitu," katanya.
Halaman 2 dari 5
(hen/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads