Ini yang Dikhawatirkan Pengusaha Saat Perdagangan Bebas ASEAN 2015

Ini yang Dikhawatirkan Pengusaha Saat Perdagangan Bebas ASEAN 2015

Zulfi Suhendra - detikFinance
Selasa, 17 Des 2013 17:35 WIB
Ini yang Dikhawatirkan Pengusaha Saat Perdagangan Bebas ASEAN 2015
Franky Sibarani
Jakarta - Pelaku usaha mengaku khawatir menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). Kekhawatiran antaralain soal pekerja menghadapi kesepakatan yang juga disebut ASEAN Free Trade Agreement akhir 2015 atau perdagangan bebas.

"Sebenarnya dari pelaku usaha itu bebas memilih (pekerja). Tapi kita prihatin kalau itu bakal didominasi oleh banyak orang asing," kata Wakil Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani saat ditemui di diskusi bertema kesiapan buruh menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN, di Permata Kuningan, Jakarta, Selasa (17/12/2013).

Terlebih menurut Franky adalah pekerja-pekerja yang memiliki keterampilan atau berada di level manajemen ke atas. Menurutnya, para pekerja asing di level tersebut justru lebih terampil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"PNS-nya wajib pakai bahasa Inggris, lalu jam kerja mereka itu lebih banyak dari kita," katanya.

Di dalam masyarakat ekonomi ASEAN justru yang paling diperhatikan adalah pekerja-pekerja yang memiliki profesi dan keterampilan khusus. Franky mengatakan, pemerintah harus turun tangan untuk menyelamatkan pekerja-pekerja tersebut dengan membuat sebuah lembaga setifikasi profesi.

"Kalau yang diatur dalam ASEAN itu profesi. Yang unskilled labour ya tidak apa-apa lah. Tapi pemerintah harus turun tangan untuk selamatkan profesi seperti dokter, bidan itu bagaimana," katanya.

Franky mengatakan, dalam masyarakat ekonomi ASEAN nantinya pekerja-pekerja yang diutamakan adalah pekerja yang memiliki sertifikat profesi.

"Dalam MEA nanti akan banyak bicara soal skill, sehingga yang namanya sertifikasi itu menjadi sangat penting. Sudah saatnya kita keluar dari isu soal UMP (Upah Minimum Provinsi) atau KHL (kebutuhan hidup layak), tetapi sekarang lebih kepada program untuk meningkatkan produktivitas dan skill para pekerja," tambahnya.

(zlf/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads