Kedua BUMN ini diminta belajar tentang manajemen lalu lintas udara dan infrastruktur di Bandara Heathrow, London.
"Saya sudah minta AP dan Airnav (Perum Navigas) untuk belajar ke Heathrow. Mereka sudah pulang. Mereka sudah bikin laporan bahwa di Heathrow London itu 2 landasan. Itu bisa take off dan landing 100 kali per jam," kata Dahlan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita baru 64-an kali. Nah ini harus terus disempurnakan, nggak perlu sempurna kayak Heathrow, bisa 80 kali saja," jelasnya.
Untuk Perum Navigasi, langkah nyata yang akan dilakukan adalah melakukan pengadaan peralatan canggih untuk mensinergikan peralatan navigasi pada bandara-bandara di Indonesia.
"Jadi supaya nanti bisa kayak Heathrow perlu ada penyempurnaan. Ada beberapa alat yang harus dibeli. Peralatan-peralatan ini se-Indonesia itu bisa mencapai Rp 1,2 triliun. Sudah saya izinkan untuk Airnav anggarkan Rp 1,2 triliun untuk melengkapi perlengkapan supaya sinkron," terangnya.
Sementara AP II nantinya bertanggungjawab mempercepat pembangunan infrastruktur tambahan di 2 landasan miliknya. AP II akan menambah rapid exit taxi way pada setiap landasan. Dengan adanya rapid exit tax way, pesawat saat landing (mendarat) bisa langsung berbelok dan berhenti menuju apron (parkir) tanpa harus berjalan ke ujung landasan untuk menuju ke apron pesawat.
"Yang ke-2 rapid exit taxi way. Ini misal landasan pesawat mendarat, dia mendarat secepat mungkin keluar. Itu segera dibangun. Jadi misal peswat kecil. Bisa keluar disini sesuai besaran pesawat. Itu perlu 1 tahun. Bangun exit rapid taxi way kan lebih murah daripada bangun landasan ke-3," sebutnya.
(hen/dnl)










































