Atasi Ruwetnya Soekarno-Hatta, Dahlan Minta BUMN Ini Belajar ke Inggris

Atasi Ruwetnya Soekarno-Hatta, Dahlan Minta BUMN Ini Belajar ke Inggris

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 18 Des 2013 10:19 WIB
Atasi Ruwetnya Soekarno-Hatta, Dahlan Minta BUMN Ini Belajar ke Inggris
Foto: Bandara Soekarno-Hatta (dok.detikFinance)
Jakarta - Untuk mengatasi keruwetan dan sibuknya penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, PT Angkasa Pura II (AP II) selaku operator bandara dan Perum Navigasi selaku operator lalu lintas penerbangan udara, diminta belajar ke Inggris.

Kedua BUMN ini diminta belajar tentang manajemen lalu lintas udara dan infrastruktur di Bandara Heathrow, London.

"Saya sudah minta AP dan Airnav (Perum Navigas) untuk belajar ke Heathrow. Mereka sudah pulang. Mereka sudah bikin laporan bahwa di Heathrow London itu 2 landasan. Itu bisa take off dan landing 100 kali per jam," kata Dahlan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belajar dari Bandara Heathrow, Perum Navigasi dan AP II diminta menyusun solusi yang bisa meningkatkan kapasitas runway Bandara Soetta. Termasuk tata cara pengaturan lalu lintas penerbangan.

"Kita baru 64-an kali. Nah ini harus terus disempurnakan, nggak perlu sempurna kayak Heathrow, bisa 80 kali saja," jelasnya.

Untuk Perum Navigasi, langkah nyata yang akan dilakukan adalah melakukan pengadaan peralatan canggih untuk mensinergikan peralatan navigasi pada bandara-bandara di Indonesia.

"Jadi supaya nanti bisa kayak Heathrow perlu ada penyempurnaan. Ada beberapa alat yang harus dibeli. Peralatan-peralatan ini se-Indonesia itu bisa mencapai Rp 1,2 triliun. Sudah saya izinkan untuk Airnav anggarkan Rp 1,2 triliun untuk melengkapi perlengkapan supaya sinkron," terangnya.

Sementara AP II nantinya bertanggungjawab mempercepat pembangunan infrastruktur tambahan di 2 landasan miliknya. AP II akan menambah rapid exit taxi way pada setiap landasan. Dengan adanya rapid exit tax way, pesawat saat landing (mendarat) bisa langsung berbelok dan berhenti menuju apron (parkir) tanpa harus berjalan ke ujung landasan untuk menuju ke apron pesawat.

"Yang ke-2 rapid exit taxi way. Ini misal landasan pesawat mendarat, dia mendarat secepat mungkin keluar. Itu segera dibangun. Jadi misal peswat kecil. Bisa keluar disini sesuai besaran pesawat. Itu perlu 1 tahun. Bangun exit rapid taxi way kan lebih murah daripada bangun landasan ke-3," sebutnya.

(hen/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads