Apa pasal perjalanan Rahman memakan waktu lebih lama? “Banyak proyek galian sepanjang perjalanan saya. Kabel inilah-itulah, perbaikan trotoar, perbaikan jalan, banyak lah. Itu yang membuat tambah macet,” tuturnya.
Rahman sendiri agak heran mengapa berbagai proyek infrastruktur tersebut dikerjakan pada akhir tahun. Padahal musimnya sedang penghujan sehingga menyulitkan pekerjaan untuk cepat selesai. “Kalau dikerjakan saat kemarau mungkin lebih baik,” ujarnya.
Suara-suara seperti Rahman sebenarnya bukan hal baru. Setiap penghujung tahun pemerintah seperti “kejar setoran” dalam membelanjakan anggaran negara. Tidak heran banyak pekerjaan infrastruktur yang baru terlaksana menjelang akhir tahun.
Pola kebut belanja negara pada akhir tahun memang sudah menjadi kebiasaan. Tahun lalu, misalnya, pada 31 Oktober penyerapan anggaran tercatat sebesar Rp 1.072,6 triliun atau 69,3 persen. Kemudian pada akhir tahun, belanja negara melonjak menjadi Rp 1.481,7 triliun (95,7 persen).
Artinya, tahun lalu pemerintah menghabiskan lebih dari Rp 400 triliun hanya dalam waktu dua bulan. Itu pun anggaran tidak terserap 100 persen, jika terserap seluruhnya tentu jumlahnya lebih besar lagi.
Lalu bagaimana dengan 2014? Presiden Susilo Bambang Yudyohono pekan lalu telah menyerahkan Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) 2014, yang memuat berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan kementerian/lembaga negara dan daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, penyerahan DIPA memang dipercepat yaitu sebelum memasuki tahun anggaran. Harapannya agar proyek-proyek yang ada di dalam DIPA segera ditenderkan sehingga pekerjaan fisik bisa dimulai pada 1 Januari.
“Saya mengajak kepada semua pemimpin lembaga negara, dan saya juga menginstruksikan pimpinan dan pejabat pemerintahan agar setelah diterimanya DIPA 2014 ini segera ditindaklanjuti, dan harapan saya bisa diimplementasikan dengan tepat waktu dan tepat sasaran. Jangan ada kemandekan apapun. Setiap kemandekan akan berpengaruh pada hasil akhir pembangunan 2014 mendatang,” tegas Yudhoyono.
Bambang Brodjonegoro, Wakil Menteri Keuangan, juga berharap penyerapan anggaran tahun depan bisa lebih baik. Jika memungkinkan, dia ingin agar belanja negara tidak lagi menumpuk jelang akhir tahun.
Namun, lanjut Bambang, di lapangan hal tersebut menemui banyak tantangan. “Apalagi untuk belanja modal, karena terkait lahan, procurement (pengadaan) yang kadang-kadang complicated, atau perencanaannya sendiri yang terkadang kurang bagus. Misalnya sebuah proyek sebetulnya tidak perlu ada atau belum siap tetapi dipaksakan masuk DIPA, akhirnya tidak jalan dan anggarannya tidak terserap,” paparnya.
Apakah belanja negara 2014 bisa lebih baik dengan dimulai pada awal tahun? Atau pola lama yang masih akan terjadi, yaitu kejar setoran jelang akhir tahun? Jika pola lama yang terjadi, maka malang betul nasib Rahman.
(hds/DES)










































