BI: Kenaikan BBM akan Pengaruhi Inflasi
Kamis, 25 Nov 2004 12:25 WIB
Jakarta -
Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengakui rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan mempengaruhi besaran inflasi. Namun pengaruh tersebut, menurutnya, hanya akan terjadi sementara. "Untuk tahap awal kenaikan BBM pasti akan mempengaruhi tapi berikutnya tidak lagi," kata Burhanuddin di Gedung BI, Jakarta, Kamis (25/11/2004). BI sendiri, lanjutnya, telah memberikan beberapa masukan kepada pemerintah mengenai besaran kenaikan BBM dan dampaknya terhadap inflasi. Namun saran itu masih digodok oleh pemerintah.Mengenai kenaikan besaran harga BBM yang disarankan BI dan berapa besarnya dampaknya terhadap inflasi, Burhan menolak menjawab. "Pokoknya ada beberapa saran dari BI. Pemerintah yang akan menentukan dan sekarang masih digodok," katanya.Dia mengatakan kenaikan harga minyak memiliki beberapa dimensi untuk Indonesia. Pasalnya impor minyak Indonesia masih lebih tinggi dari ekspor. Hal ini kebalikan dari komoditi gas yang masih positif. "Tapi kalau minyak sudah impor, jadi dimensinya banyak, seperti ke APBN, subsidi dan apakah sustainable atau tidak. Ini jadi persoalan. Kemudian juga devisa dalam negeri, kebutuhan valas bagi impor minyak itu harus dipikir dengan baik karena kebutuhannya sekitar US$ 800 juta-US$ 1 miliar," kata Burhan. Jika permintaan itu tidak dimanage dengan baik, lanjutnya, dikhawatirkan masalah-masalah itu akan mengganggu stabilitas.Saat ditanya mengenai langkah Pertamina yang melakukan pinjaman kepada bank, Burhan memastikan BI sudah mengetahui hal itu. Pihaknya juga telah membicarakan dengan Depkeu, seperti pinjaman dari bank. "Saya minta perhatian pemerintah mengenai hal ini karena kemungkinan terjadi pelanggaran BMPK. Waktu saya punya beberapa usul mengenai pembiayaan impor oleh Pertamina. Jadi konsorsium bank-bank itu yang kita tawarkan dan pasti tidak ada pelanggaran BMPK," katanya.
(nit/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































