Melalui diving, Nadine mengaku bisa lebih dekat dengan alam dan Sang Pencipta. “Saat berada di dalam laut saya bisa fokus pada diri saya sendiri, instrospeksi, dan bicara sama Tuhan. Bukan hanya melihat, tetapi mendengar apa yang ada di sekeliling kita. Itu yang aku latih terus, untuk lebih peka kepada lingkungan sekitar,” tuturnya.
Nadine, dan juga para pecinta diving lainnya, mungkin harus berterima kasih kepada dua orang Perancis bernama Emile Gagnan dan Jacques-Yves Cousteau. Mereka berdua adalah yang mengembangkan peralatan untuk bernafas di dalam air. Penemuan ini memecahkan masalah keterbatasan manusia untuk menahan nafas sehingga mampu lebih lama menikmati keindahan bawah laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Munculnya alat bantu pernafasan dalam air (aqualung) dan wetsuit membuat aktivitas menyelam untuk rekreasi berkembang pada 1950-an dan 1960-an. Namun ketika itu recreational diving baru bisa dinikmati oleh mereka yang mampu membeli peralatan sendiri.
Seiring waktu, diving menjadi semakin populer. Ini membuat semakin banyak perusahaan yang memproduksi perlengkapan diving untuk mengisi potensi pasar yang cukup besar. Akhirnya, hadirlah peralatan diving dengan harga yang lebih terjangkau tanpa mengabaikan kualitas.
Menurut Nadine, Indonesia merupakan surga bagi para pecinta diving. Pemandangan bawah laut di Indonesia bisa dibilang tidak ada bandingannya. Sebagai negara kepulauan, tidak terhitung banyaknya tempat indah di Indonesia yang bisa dijadikan tempat diving. Tapi mana favoritnya?
Nadine menunjuk Sabang (Aceh) dan Raja Ampat (Papua). Di Sabang, perempuan yang sudah menggeluti hobi menyelam sejak 2006 ini bisa melihat ngarai bawah laut yang indah. “Sama seperti Grand Canyon di Amerika, tetapi ini di bawah laut,” ucapnya.
Sementara di Raja Ampat, lanjut Nadine, sudah tidak perlu banyak kata-kata. Keindahan tempat ini memang sudah mendunia. “Mau lihat apapun ada. Gunung, laut, sunrise, sunset, ada semua,” katanya.
Namun, Nadine menyebutkan pengalaman yang tak terlupakan kala menyelam di Raja Ampat adalah menjelang malam hari. “Sebelum matahari terbenam dan bintang-bintang mulai bermunculan. Aku bisa melihat kehidupan yang bertukar, terlihat rotasi bumi. Aku menantikan momen-momen seperti itu di Raja Ampat,” terangnya.
(hds/DES)











































