Salah satunya adalah Flying Fish Divers. Awalnya Flying Fish Divers merupakan sebuah perkumpulan selam, tetapi mereka juga menyediakan fasilitas kursus bagi yang ingin mendalami diving.
Flying Fish Divers berdiri pada 2 Maret 2011. “Berdirinya klub Flying Fish Divers bermula dari obrolan ringan di kalangan para instruktur selam. Kami bertujuan untuk memasyarakatkan dan memperkenalkan aktivitas selam di tanah air dengan aman, nyaman, dan penuh kegembiraan serta meningkatkan kepedulian terhadap ekosistem bawah laut,” papar Hinantoro, salah seorang instruktur di Flying Fish Divers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah murid di Flying Fish Divers saat ini sekitar 80 orang. “Kebanyakan adalah karyawan. Ada beberapa mahasiswa, bahkan personel militer juga ada,” kata Hinantoro.
Materi kursus selam di Flying Fish Divers dibagi dua, yaitu di kelas dan pengenalan lapangan. Di kelas, peserta kursus diberikan sejumlah materi seperti alat selam dasar, pengetahuan medis dan pertolongan pertama, terumbu karang, ikan-ikan yang berbahaya, dan sebagainya.
Setelah selesai mendapatkan materi di kelas, peserta akan menjalani pengenalan lapangan. Pertama adalah praktik menyelam di kolam. “Kami memiliki fasilitas kolam latih sendiri, tidak bercampur dengan tempat kursus yang lain. Lokasinya di MT Haryono,” kata Hinantoro.
Latihan di kolam dibagi menjadi tiga pertemuan. Setelah itu, peserta akan dibawa untuk pengenalan lapangan lebih jauh di lautan terbuka.
Untuk seluruh materi tersebut, peserta dikenakan biaya Rp 3,5 juta. Namun, bagi mahasiswa yang kurang mampu bisa disediakan bantuan.
Hinantoro meyakini prospek kursus selam sangat menjanjikan. “Keindahan alam Indonesia akan mendukung perkembangan diving. Akan semakin banyak orang yang tertarik untuk menekuni diving, dan mereka ingin belajar,” tuturnya.
Meski begitu, Hinantoro menyayangkan justru saat ini potensi ekonomi di bidang diving banyak dimanfaatkan oleh pihak asing. Dia mencontohkan di Raja Ampat (Papua), dimana banyak pihak asing yang membuka usaha dan sukses.
“Di sana sudah mahal sekali, tarif ekspatriat. Kita membawa Rp 15-21 juta ke sana tetapi justru menjadi turis. Tuan rumahnya orang asing,” kata Hinantoro.
(hds/DES)











































