Di era modern seperti sekarang, masihkah ada sistem kerja paksa atau perbudakan manusia? Ternyata sistem seperti itu masih diterapkan di berbagai tempat di dunia. Ada yang terang-terangan, ada yang tersembunyi.
Menurut laporan Global Report on Forced Labour dari International Labour Organisation (ILO), pada 2005 ada lebih dari 12,4 juta orang di seluruh dunia yang menjadi korban kerja paksa. Pada 2011, menurut data Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, jumlahnya sudah mencapai 27 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerja paksa adalah bagian dari perbudakan manusia. Di dalamnya termasuk pula perbudakan seks yang berkaitan dengan penyelundupan manusia, seperti yang terjadi di Nepal, Kamboja, India, dan sebagainya.
Romusha dan cultuurstelsel barangkali tinggal catatan sejarah. Tapi ia masih terjadi dalam wujudnya yang lain, di sekeliling kita.
Di Uzbekistan, negara pecahan Uni Soviet, saban tahun ada titah dari pemerintah bagi seluruh rakyat untuk terjun ke perkebunan kapas. Mereka harus memetik kapas selama berhari-hari, bahkan sampai setengah bulan, dengan bayaran minim atau tak dibayar sama sekali.
Tak mau? Ancamannya dipecat dari pekerjaan atau dipenjara.
Sementara di beberapa negara, seperti Nepal dan Kamboja, masih terjadi perbudakan seks yang melanda anak-anak perempuan. Tanpa ada pilihan, sejak kecil anak-anak perempuan di sana dijual orang tuanya sendiri kepada orang kaya atau rumah bordil untuk menjadi pekerja anak atau budak nafsu.
DetikFinance hari ini menurunkan laporan khusus mengenai perbudakan modern ini bagi Anda, melalui kisah di beberapa negara sebagai contoh. Kebetulan, saban bulan Desember ada peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) internasional. Selamat menyimak!
Β
(DES/DES)











































