Itu terjadi beberapa pekan selama musim gugur. Khidoyatova harus bergabung dengan ribuan orang Uzbekistan lain, turun ke perkebunan kapas dan memunguti atau memetik bunga kapas. Mereka akan dibayar murah, atau tidak sama sekali.
Para pemetik kapas musiman ini bekerja atas perintah pemerintah. Pada musim panen, pemerintah mengerahkan jutaan warga untuk memetik kapas supaya nilai ekspor tetap terjaga. Uzbekistan adalah negara pengekspor kapas terbesar nomor lima di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak pagi sampai sore hari mereka akan memetik dan mengumpulkan minimal 54 kilogram kapas. Pada malam hari mereka akan tidur di gedung olahraga atau di sekolah-sekolah, atau bahkan di barak-barak darurat.
Dulu, pemerintah Uzbekistan mengerahkan anak-anak usia 7 tahun ke atas. Tapi cara itu diprotes oleh kelompok penentang buruh anak-anak, seperti Cotton Campaign dan Responsible Sourcing Network, yang bekerjasama dengan perusahaan garmen di negara barat.
Khawatir kapasnya dicekal, pemerintah Uzbekistan pun memaksa orang tua anak-anak itu, apapun profesinya, untuk menggantikan. Menolak, itu artinya ditangkap atau dipecat dari pekerjaannya.
Pada musim panen, manajer-manajer di kantor dan kepala sekolah membagi pemetik ke dalam dua grup. Mereka akan dirotasi. Kalau sedang tak bekerja di perkebunan, mereka bekerja seperti biasa dalam dua shift.
Dalam sistem ini, bos di kantor adalah juga bos di perkebunan kapas. Kemampuan memetik kapas termasuk dalam penilaian kinerja seorang karyawan.
New York Times menyebutkan, apa yang diterapkan oleh Uzbekistan itu adalah sistem buruh tani yang mengerikan. New York Times bahkan mengutip kelompok pengawas buruh internasional yang menyatakan, apa yang diterapkan di Uzbekistan adalah sistem kerja paksa.
Negeri terpadat di Asia Tengah, dengan populasi 30 juta orang, adalah negeri yang paling represif di antara negara bekas Uni Soviet. Human Rights Watch memperkirakan Uzbekistan adalah negeri dengan jumlah tahanan politik terbesar dibandingkan masa Uni Soviet dulu.
“Pemerintah tak mau berinvestasi untuk mesin, karena mereka punya buruh murah dan kapas yang dipanen dengan tangan lebih bernilai harganya,” kata Sergei V. Naumov, seorang reporter asal Uzbekistan yang bekerja di Ferghana.news, sebuah situs berita Asia Tengah.
Steve Swerdlow, peneliti di Human Rights Watch, mengatakan pemerintah Uzbekistan itu tak ubahnya pemimpin kerja paksa. Pemerintah memobilisasi rakyat dengan memakai pejabat di berbagai tingkatan.
“Jutaan rakyatnya memetik kapas dalam kondisi terpaksa, terpapar pestisida, kurang air bersih dan tempat istirahat yang memadai, untuk pekerjaan yang hanya dibayar kecil atau tidak sama sekali,” kata Swerdlow.
Khidoyatova membenarkan. Sang dokter ini sudah memetik selama 22 tahun dan saban tahun dia menilai keadaan tak lebih baik.
Tapi apa kata pemerintah? Pemerintahan Presiden Islam Karimov menyatakan bahwa partisipasi rakyat dalam panen raya kapas adalah bagian dari tradisi dan pelayanan patriotik bagi negara.
“Sejak dahulu kapas adalah simbol kesucian, hanya orang yang berpikiran bersih dan berjiwa yang indah yang mampu menanam kapas,” kata Presiden Karimov.
(DES/DES)











































