Pekerjaannya bukan sekadar pekerjaan. Sebut saja namanya Kieu, 14 tahun. Dua tahun lalu dia terpaksa melakukan 'pekerjaan' itu. Sederhana saja. Kieu dibawa ke dokter yang akan memeriksa dan mengeluarkan 'sertifikat keperawanan'.
Kieu kemudian dibawa ke sebuah hotel dan keperawanannya dijual kepada dua pria, yang memperkosanya selama dua malam. “Awalnya saya tak tahu apa pekerjaan itu,” kata Kieu, yang sekarang bersembunyi di tempat yang aman di Phnom Penh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak tahan diperlakukan begitu, Kieu melarikan diri dan bersembunyi. Tapi coba dengar apa kata sang ibu. “Menjual putri saya memang menghancurkan hati, tapi apa yang mau dikata?” kata Neoung, sang ibu. “Utang saya banyak, saya tak tahu harus melakukan apa lagi.”
Sephak (bukan nama sebenarnya), saudara Kieu, juga bernasib sama. Dia mendapat sertifikat keperawanannya pada usia 13 tahun, hanya beberapa jam sebelum ibunya mengantar dirinya ke sebuah hotel di Phnom Penh dan keperawanannya dijual seharga Rp 8 juta kepada seorang China.
Don Brewster, 59 tahun, seorang Amerika, yang secara sukarela merawat anak-anak korban perbudakan seks itu, mengatakan kisah seperti Kieu dan Sephak sangat sulit dibayangkan. “Anak itu tak dicuri, tapi ibunya yang memberikan mereka untuk diperkosa,” katanya.
Brewster beroperasi di Svay Pak, kawasan nelayan yang menjadi pusat penyelundupan anak-anak untuk budak seks di Kamboja. Ini seperti 'surga' bagi para pedofil. Di sini, keperawanan adalah aset yang sangat bernilai bagi sebuah keluarga.
“Kami awalnya tak percaya, sampai kemudian melihat mobil demi mobil yang berisi anak-anak,” kata Brewster.
UNICEF memperkirakan, sepertiga dari 40.000-100.000 pekerja seks di Kamboja adalah anak-anak. Svay Pak adalah jantung pasar pekerja seks anak-anak itu. Penduduk kawasan miskin ini sebagian adalah imigran gelap asal Vietnam.
Mark Capaldi, seorang peneliti senior di Ecpat International, yang memerangi eksploitasi seksual terhadap anak-anak, mengatakan perbudakan seks anak-anak selalu terjadi di dalam industri seks dewasa. Pelakunya, kata Capaldi, lebih sering adalah orang Kamboja yang memburu keperawanan.
(DES/DES)











































