India: Tradisi dan Berkah Anak Perempuan

Perbudakan Ada di Mana-Mana (5)

India: Tradisi dan Berkah Anak Perempuan

- detikFinance
Senin, 23 Des 2013 17:26 WIB
India: Tradisi dan Berkah Anak Perempuan
Foto: Reuters
Jakarta - Kamboja punya kawasan bernama Svay Pak, India punya Baratpur. Di kota yang terdapat di negara bagian Rajasthan ini, bermukim kaum Bedia yang mempunyai 'tradisi' mengirimkan anak-anak perempuannya ke rumah-rumah bordil di India.

Kaum Bedia lahir dari sebuah pertempuran di Rajasthan pada abad ke-16, yang terkenal dengan peristiwa Pengepungan Chittorgarh. Pasukan Mughal berhasil mengalahkan Rajputs yang beragama Hindu.

Pihak yang kalah mengungsi ke hutan-hutan dan menjadi kaum nomadik. Sedangkan kaum perempuannya kemudian dijadikan pelacur. Dari sinilah tradisi itu bermula. Tradisi yang sama juga ada di beberapa komunitas lain di India, seperti Nat dan Kanjar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kaum itu menganggap, anak perempuan adalah berkah karena bisa jadi sumber pendapatan keluarga. Banyak anak-anak kecil kemudian disuntikkan hormon khusus untuk mempercepat pertumbuhan payudara. Setelah itu, anak-anak dijual ke tempat-tempat prostitusi.

Devi, bukan nama sebenarnya, adalah salah satu korbannya. Pada usia 14 tahun, atas perintah ibunya sendiri, Devi diboyong seorang pria ke sebuah distrik 'lampu merah' di New Delhi, Garstin Bastion Road.
 
Perempuan 20 tahun ini tak punya pilihan lain. Dia harus melayani sekitar 12 pria hidung belang saban hari. Devi hanya mendapatkan sekitar Rp 16 ribu saja dari tiap tamu yang dilayaninya.

Belum lagi perlakuan buruk dari tamu maupun induk semang yang menjadi makanan sehari-hari seorang Devi. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya untuk menghentikan tradisi kaum Bedia.

“Saya selalu tahu bahwa ini akan jadi hidup saya,” kata Devi, beberapa waktu lalu. “Inilah satu-satunya cara hidup keluarga kami.”
 
Begitu pun pemerintah India. “Sangat sulit dihentikan,” kata Niraj Pawan, seorang pejabat tinggi di Bharatpur.

Begitu berharganya anak perempuan sampai-sampai kerap juga terjadi penculikan bayi perempuan di antara komunitas Bedia, Nat, dan Kanjar. Aparat keamanan tak bisa berbuat banyak untuk mengendalikan hal itu. Pada sejumlah kasus, penegak hukum malah terlibat.

Tapi pihak kepolisian membantah bahwa pihaknya tak acuh. Alok Kumar, seorang deputi komisioner di Delhi mengatakan pihaknya secara rutin melakukan operasi penyelamatan perempuan korban penyelundupan dari distrik lampu merah di New Delhi.
 
Menurut data dari lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa, di tempat distrik lampu merah itu terdapat 92 rumah bordil dengan lebih dari 4.000 orang pekerja seks seperti Devi.

PBB menghitung, industri prostitusi di India memang terbilang dahsyat. Nilai bisnis ini mencapai antara US$ 4 miliar sampai US$ 10 miliar. Industri ini makin kokoh ditopang oleh situasi kemiskinan, korupsi, sampai praktek budaya yang diskriminatif terhadap kaum perempuan.

Total ada sekitar 4 juta orang pekerja seks di India. Parahnya, 1,2 juta di antaranya berusia di bawah 18 tahun.



(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads