BJ Habibie, mantan presiden Indonesia, menyatakan bahwa transportasi udara menjadi kunci untuk menyatukan Indonesia. “Kalau Australia, saya masih bisa naik kereta api, Amerika Serikat saya masih bisa naik kereta api atau bus. Di sini bagaimana? Satu-satunya ya kapal terbang,” tegasnya ketika berbincang dengan detikFinance beberapa waktu lalu.
Namun, Indonesia ternyata masih kekurangan salah satu faktor penting untuk mengembangkan transportasi udara yaitu sumber daya manusia. Ya, Indonesia kekurangan tenaga penerbang alias pilot.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memperkecil jarak tersebut, pemerintah melakukan upaya dengan membangun sejumlah sekolah penerbang. Sudah ada satu sekolah yang berlokasi di Curug (Tangerang) dan kini pemerintah telah meresmikan satu lagi yaitu Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (LP3B).
Awal pekan ini detikFinance berkesempatan untuk bertandang ke LP3B. Sekolah tersebut terletak di sisi Bandara Blimbingsari, Banyuwangi. Jaraknya sekitar 100-200 meter dari bandara tersebut.
“Sarana dan prasarana sudah dalam tahap akhir dan bisa diresmikan. Dibangun mulai Juni 2013 dengan nilai Rp 39 miliar,” kata Sigit Wijayanto, Pejabat Pembuat Komitmen dalam proyek LP3B.
Sekolah penerbang di Banyuwangi ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari tiga unit flight simulator, asrama dengan kapasitas 80 taruna, hangar berkapasitas 12 pesawat, lima unit pesawat latih, sampai ruang poliklinik.
LP3B sendiri merupakan pengembangan dari Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya. “ATKP bertujuan untuk mendidik taruna menjadi kru ATC atau teknisi. Kami ingin meningkatkan kapasitas dengan mendidik taruna menjadi pilot. LP3B adalah pilot project,” kata Bambang.
Selain di Banyuwangi, pemerintah juga tengah mengembangkan sekolah serupa di daerah lain. “Di Makassar fisiknya sudah dibangun. Satu per satu lah,” ujar Bambang.
Santoso Eddy Wibowo, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhubungan, mengatakan saat ini sudah ada 47 taruna yang menempuh pendidkan di LP3B. Dari jumlah tersebut, 11 diantaranya adalah siswa-siswi asal Papua dan Papua Barat.
“Loka pendidikan ini adalah salah satu sekolah yang dibentuk untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas penerbang. Saya minta kita dapat merawat fasilitas ini, jangan sampai ditutup karena tidak memenuhi persyaratan. Kalau kurang katakan kurang, kita perbaiki agar mutunya baik,” papar Santoso.











































