Ekonomi 2014 Bakal Dipengaruhi Politik

Outlook Ekonomi 2014 (2)

Ekonomi 2014 Bakal Dipengaruhi Politik

Hidayat Setiaji - detikFinance
Senin, 30 Des 2013 12:00 WIB
Ekonomi 2014 Bakal Dipengaruhi Politik
Jakarta - Tahun 2014 sudah di depan mata. Seperti halnya 2013, 2014 pun masih penuh dengan tantangan. Pesta demokrasi yang berlangsung tahun depan perlu menjadi perhatian para pelaku ekonomi.

Helmi Arman, ekonom Citi Research, menilai pelaksanaan Pemilu 2014 akan menjadi faktor penting. Dia berpandangan kebijakan negara tahun depan akan cenderung berlatar belakang kepentingan politik.

β€œLangkah untuk mengurangi defisit transaksi berjalan mungkin sulit berjalan lancar di tengah tekanan politik. Kampanye politik akan menjadi isu, apalagi bagi pejabat publik yang berpartisipasi dalam Pemilu,” sebut Helmi dalam risetnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah, lanjut Helmi, sudah mencoba untuk menekan defisit transaksi berjalan dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar 44 persen pada pertengahan 2013. Namun, BBM bersubsidi masih menjadi isu pada 2014 dan dibutuhkan langkah lebih lanjut untuk mengurangi defisit transaksi berjalan.

Salah satu langkah lanjutan yang perlu dilakukan, menurut Helmi, adalah mengendalikan konsumsi BBM bersubsidi. β€œNamun Pemilu bisa mengalihkan perhatian para pembuat kebijakan untuk serius dalam menerapkannya. Artinya ada risiko pemerintah akan kembali menaikkan harga BBM setelah terbentuknya pemerintahan baru, mungkin awal 2015,” paparnya.

Secara umum, Helmi menyebutkan perekonomian Indonesia pada 2014 masih akan melambat. β€œKami memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2014 sebesat 5,3 persen, melambat diibandingkan 2013 yang diproyeksikan 5,7 persen. Perlambatan utamanya akan disebabkan oleh investasi, karena dunia usaha menghadapi masalah kenaikan suku bunga dan biaya impor barang modal karena pelemahan rupiah,” paparnya.

Sri Adiningsih, ekonom Universitas Gadjah Mada, juga memperkirakan perekonomian Indonesia pada tahun depan masih akan melambat. Sulit untuk mengambalikan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 persen, karena investasi dan ekspor masih belum bisa diandalkan.

β€œPertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan menurun. Ada deviasi dan fluktuasi lebih tinggi," kata Adiningsih.

Pemilu, lanjut Adiningsih, memang bakal membantu mendorong konsumsi rumah tangga. Namun dukungan faktor eksternal yaitu ekspor dan investasi belum membaik.

"Akibatnya struktur ekonomi Indonesia masih mengandalkan konsumsi. Besaran makroekonomi yang terkait kondisi keuangan global masih stagnan," tutur Adiningsih.

Bahkan Pemilu bisa jadi sentimen negatif bagi perekonomian, jika tidak berjalan dengan lancar. β€œRisiko kemerosotan pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Jika pemilu tidak damai, maka ekonomi akan jatuh," tegas Adiningsih.

Β 
(DES/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads