"Kita harus punya 1.500-2.000 peneliti kelautan kita baru punya 700 peneliti, 15 diantaranya bergelar profesor dan jumlah ini masih kurang. Yang terbesar porsi peneliti berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sebanyak 400," ungkap Kepala Badan Litbang KP Achmad Poernomo saat melakukan kerjasama dengan FAO di Hotel Aryaduta, Tugu Tani Jakarta Pusat, Senin (30/12/2013).
Ada beberapa kendala yang membuat jumlah peneliti sektor perikanan dan kelautan rendah. Salah satunya adalah minat yang kurang. Untuk menutupi kendala, itu KKP sudah membidik calon peneliti semenjak duduk di bangku kuliah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Parahnya lagi adalah banyaknya peneliti asing yang sudah mulai masuk dan meneliti sektor kelautan dan perikanan di Indonesia. Menurut Achmad keberadaan peneliti asing cukup berbahaya karena hasilnya nanti hanya digunakan untuk si peneliti dan negara asal si peneliti.
"Kedua kita banyak penelitian kita yang dilakukan oleh peneliti asing yang mereka itu punya motivasi macam-macam dan ada hak paten kadang-kadang kita ditinggal. Ini dampak negatifnya. Kita seharusnya lebih memahami dibandingkan negara luar," tuturnya.
Di tahun 2014 nanti, KKP baru menerima informasi adanya tambahan 40 calon peneliti melalui tes seleksi CPNS. Padahal untuk mendorong penelitian sektor kelautan dan perikanan, KKP mengalokasi dana operasional sebesar Rp 500-600 miliar/tahun.
"Kita baru mendapatkan 40 calon peneliti melalui tes CPNS di tahun 2014. Anggaran untuk penelitian ini total 8% dari dana KKP atau Rp 500-600 miliar/tahun. Itu untuk gaji, maintenance dan penelitian. Kita tetap melakukan kerjasama dengan LIPI, BATAN," cetusnya.
(wij/hen)











































