Padahal seharusnya Indonesia bisa menjadi lumbung produksi pangan dunia yang tentu dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi dari sektor pangan. Tercatat selama tahun 2013 ada beberapa jenis komoditas pangan yang bisa dikatakan menjadi 'barang mewah' karena harganya yang cukup mahal. Tidak hanya mahal, keberadaan komoditas pangan juga sulit dicari di waktu-waktu tertentu.
Berikut ulasan beberapa produk pangan yang menjadi 'barang mewah' dan pernah terjadi di tahun 2013 ini seperti dihimpun detikFinance, Rabu (1/1/2014). Bahkan produk pangan ini menjadi perhatian dan pemerintah khususnya Presiden SBY.
Daging Sapi
|
|
Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurti pernah mengatakan dan menilai harga daging sapi di Indonesia termasuk yang paling mahal di dunia. Menurut data Bank Dunia, harga daging sapi rata-rata di Indonesia pada bulan Desember 2012 mencapai US$9,76, sementara di Malaysia hanya US$4,3, Thailand US$4,2, Australia US$4,2, Jepang US$3,9, Jerman US$4,3, dan India US$7,4.
Mahalnya harga daging sapi ini, disamping disinyalir karena adanya permainan di antara importir daging sapi dengan berupaya mengendalikan harga, disisi lain juga disebabkan minimnya pasokan di pasar. Menurut Menteri Pertanian Suswono, harga daging sapi lokal melambung karena kendala biaya mahal transportasi.
Dibanding negara lain, konsumsi daging sapi bangsa Indonesia masih rendah, yakni 1,87 kilogram per kapita per tahun. Dari konsumsi yang rendah itu dibutuhkan 384.000 ton daging sapi per tahun. Jumlah itu 85% dipenuhi dari produksi domestik dan sisanya impor.
Di pertengahan semester ke II tepatnya menjelang lebaran tahun 2013, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan membebaskan impor sapi bakalan dan sapi siap potong. Tidak hanya itu kemendag juga membebaskan impor daging sapi beku dan memberikan tugas kepada Bulog 3.000 ton daging sapi dengan harapan harga daging menurun. Namun kenyataannya harga daging sapi tak beranjak turun hingga sekarang.
Data Kementerian Perdagangan menyebut total impor daging sapi tahun 2013 ditetapkan 80.000 ton atau 15 persen dari total kebutuhan. Jumlah ini menurun dibandingkan kuota tahun 2012 sebesar 19 persen, tahun 2011 sebesar 35 persen dan tahun 2010 masih diatas 50 persen. Tahun 2014, tahun dimana dicanangkan tercapainya swasembada daging sapi, ternyata kementerian pertanian masih menargetkan kuota impor daging sapi sebesar 10 persen dari total kebutuhan dalam negeri.
Kebutuhan daging sapi ini sebagian besar diimpor dari tiga negara, yakni Australia sebesar 75 persen, Selandia Baru sekitar 20 persen dan AS sebesar 5 persen.
Sedangkan total izin pemasukan sapi impor yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sepanjang tahun 2013 mencapai 409.137 ekor sapi. Sebagai pembanding, pada 2012 sempat ada pemangkasan kuota impor sapi bakalan dari 400.000 ekor menjadi 283.000 ekor.
Kemendag juga mengeluarkan izin tambahan impor sapi siap potong tahun ini dengan realisasi sebanyak 24.525 ekor. Lalu ada izin tambahan impor sapi siap potong pada bulan Oktober hingga Desember 2013, antaralain tambahan sapi untuk jenis sapi bakalan sebanyak 24.466, sapi siap potong 97.892 ekor.
Kedelai
|
|
Sekarang Indonesia hanya mampu memproduksi 800 ribu ton kedelai per tahun padahal total kebutuhan secara nasional mencapai 2,3-2,5 juta ton/tahun. Untuk itu Indonesia tidak segan untuk melakukan importasi kedelai.
Di tahun 2012, tercatat Indonesia melakukan importasi sebesar 2,3 juta ton dengan nilai US$ 1,4 miliar. Indonesia rutin melakukan impor kedelai dari Amerika Serikat. Jumlah itu semakin meningkat karena untuk meredam harga kedelai, pemerintah telah membebaskan impor kedelai di pertengan tahun 2013.
Namun hingga kini harga kedelai masih belum beranjak turun di harga Rp 9.500/kg. Padahal di samping telah membebaskan kuota, pemerintah juga telah membebaskan bea masuk impor sebesar 0%.
Bawang Putih
|
|
Menurut Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi harga bawang putih diperkirakan bakal turun signifikan dalam 2-3 minggu ke depan. Dilepasnya ratusan kontainer bawang putih impor yang sempat tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak jadi pemicunya.
Efek dari lancarnya proses pendistribusian bawang putih berimbas pada terus menurunnya harga di tingkat pengecer. Dalam survei yang dilakukan Kementerian Perdagangan di Pasar Induk Kramat Jati memang menunjukan harga sudah turun menjadi Rp 16.000-18.000/kg, padahal sebelumnya sempat menembus lebih dari Rp 80.000/Kg.
Di tahun 2012 Indonesia mengimpor 462.877 ton dan menurun di tahun 2013 yang hanya mengimpor 320.000 ton. Importasi bawang putih Indonesia lebih banyak dilakukan dari negara China. Indonesia sendiri hanya memproduksi 5% sedangkan 95% lainnya didapat dari impor.
Cabai Rawit dan Bawang Merah
|
|
Untuk itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengungkapkan akan mengintervensi tingginya harga dengan impor. Impor kedua bahan kebutuhan tersebut yaitu cabai dan bawang merah dibeli dari Vietnam dan Thailand. Menurut Gita impor bawang merah dan cabai rawit sangat wajar dilakukan. Tindakan ini dilakukan mengingat pasokan yang berkurang karena mundurnya masa panen. Namun Gita memastikan, bakal menghentikan impor kedua produk tersebut jika sudah memasuki masa panen.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi tanggal 12/7/2013 mengatakan akan mendatangkan bawang merah impor sebanyak 2.600 ton dan cabai sebesar 240 ton. Untuk 2.600 ton bawang merah impor, pemerintah telah menunjuk 14 perusahaan importir terdaftar yang akan melakukan importasi produk tersebut.
Daging Ayam
|
|
Ketua Umum Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P. Utoyo mengatakan salah satu penyebab tingginya harga daging ayam karena ulah para pedagang daging ayam yang memainkan harga sehingga harga tidak wajar.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengaku kenaikan harga daging ayam saat ini tidak wajar. Biasanya sesuai pola yang terjadi setiap tahun, harga daging ayam terus turun usai pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri. Menurutnya biasanya harga ayam akan jatuh dan harga day old chick (DOC) nya turun dan ini menjadi titik kulminasi setelah Lebaran mulai turun harganya. Tetapi ia menyatakan ada keanehan kareena saat itu harga ayam di peternak hanya Rp 14.000/kg di pedagang kok sudah Rp 32.000/kg.
Rusman berpesan agar Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak buru-buru untuk melakukan impor daging ayam untuk meredam harga.
Halaman 2 dari 6











































