"Secara total (Januari-November 2013) neraca perdagangan masih tercatat defisit sebesar US$ 5,6 miliar. Ini disebabkan oleh impor minyak yang masih tinggi sehingga defisitnya terhitung cukup besar," kata Kepala BPS, Suryamin di Jakarta, Kamis (2/1/2014).
Neraca perdagangan pada November memang tercatat surplus US$ 776,8 juta. Hal ini ditopang oleh ekspor US$ 15,93 miliar atau naik 1,45% dari Oktober 2013 dan impor sebesar US$ 15,5 miliar atau turun 3,35% dari Oktober 2013.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total ekspor Januari-November adalah US$ 165,57 miliar atau turun 5,19% (yoy). Sementara BPS mencatat ekspor non migas turun 3,02% (yoy) menjadi US$ 136,36 miliar.
Pangsa ekspor terbesar adalah China sebesar US$ 18,93 miliar, Jepang US$ 14,69 miliar dan AS sebesar US$ 13,79 miliar.
"Untuk impor sebesar US$ 15,5 miliar atau turun 3,35% dari Oktober 2013. Ini ditopang oleh impor non migas yang turun 8,12% dari US$ 12,20 miliar menjadi US$ 11,21 miliar. Sedangkan migas masih naik 13,39% menjadi US$ 3,94 miliar," katanya.
Total impor adalah sebesar US$ 171,17 miliar atau turun 2,8% (yoy) dengan non migas sebesar US$ 130,13 miliar atau turun 5,19%. Pangsa impor terbesar adalah Cina US$ 22,23 miliar, Jepang US$ 17,51 miliar dan Thailand US$ 9,95 miliar.
(dru/ang)











































