Garage Grill, nama restoran itu, berdiri di sebuah pusat perbelanjaan kelas atas di Teheran. Di sebelahnya, Dukkan Burger sibuk melayani pesanan burger yang dibungkus kertas, dibalur kecap Heinz, dan mustard Prancis kalau diminta.
Keduanya sama-sama dipenuhi pelanggan yang berkelas. Orang-orang muda Iran, perempuan-perempuan muda berkerudung hitam tapi menenteng dompet rancangan rumah mode terkenal dan datang dengan mobil-mobil mewah Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi burger dan roti lapis sudah terlebih dahulu terkenal di sudut-sudut Kota Teheran, di antara kelas pekerja. Mereka yang membutuhkan kalori tinggi atau pelajar dan mahasiswa yang butuh makanan terjangkau isi dompet.
Sekarang, burger naik kelas. Posisinya ada di pusat-pusat perbelanjaan mewah atau restoran mahal di seluruh kota.
Orang Iran memang sudah lama menyukai daging bakar. Begitu kata Payam Kashani-Nejad, pendiri Gumboo Guide, website yang mengkhususkan diri mengulas restoran-restoran di Teheran. “Burger sangat sederhana, sangat mudah disajikan,” katanya. “Dan itu adalah pasar yang besar.”
Di Iran, akhir-akhir ini, segala yang berbau luar negeri termasuk ke dalam kelas high-end. Begitu juga burger. Maka kebanyakan restoran hamburger berada di kawasan mewah, di bagian utara Teheran, di dekat kaki gunung Alborz yang bersalju.
“Konsep kami asli Amerika,” kata Arash Farhadpour-Shirazi, pemilik Garage Grill, kepada Washington Post. “Burger dan mobil-mobilnya.”
Farhadpour-Shirazi bilang, orang Iran sebetulnya menyukai gara Amerika. Menurut Farhadpour-Shirazi, mengutip orang-orang yang disebutnya, 'rumput' AS memang lebih hijau.
Maka Garage Grill menjadi tempat pelarian itu. Pramusajinya memakai kaus berlogo rally mobil klasik yang disponsori restoran itu pada 2013. Sebuah lampu neon bertuliskan “Route 66” digantung di pintu masuk, dekat sepotong mobil klasik Austin Mini.
Di sebelahnya ada Burgerland, restoran yang didirikan anggota band musik cadas underground, Barobax. Band ini pernah menelurkan lagu hit pada 2010, “Soosan Khanoom”.
Bisnis makanan, kata Khashayar Moradi Haghgoo, salah satu pentolan Barobax, lebih menjanjikan ketimbang musik. Saban hari, restoran ini mampu menjual sekitar 1.500 hamburger.
Di sebelah barat, di kawasan Shahrak-e Gharb, ada BurgerHouse yang menjadi pionir di sana. Amir Javadi, sang pemilik, mengatakan pada tiga tahun lalu tak ada yang membuka gerai seperti itu di sana. Sekarang, gerai hamburger bak jamur di musim hujan.
BurgerHouse tampil beda karena menyediakan layanan drive-in, memesan dari dalam mobil. “Ada ongkos yang lebih besar untuk delivery, jadi kami memberikan pilihan tambahan, membawa pesanan ke mobil mereka,” kata Javadi.
Mengapa makanan Amerika itu bisa sukses, meski Iran dan pemerintahnya terkenal paling anti-Amerika? “Burger bukan lagi ciri Amerika,” kata Javadi. “Burger adalah makanan favorit dunia, itu yang membuatnya disukai.”
(DES/DES)











































