Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengakui ada hambatan pembuatan landasan pacu baru. Salah satu hambatan itu adalah sulitnya proses pembebasan lahan karena mahalnya harga lahan.
"Angkasa Pura sedang melakukan kajian kembali dan menambah runway ke tiga dan cukup banyak uang untuk pembebasan lahan sekitar Rp 1 triliun itu yang agak jauh dari landasan di Soekarno Hatta saat ini. Kalau dekat bisa mencapai Rp 4 triliun," kata Bambang saat ditemui di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Jumat (10/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengurangi beban di jam-jam tertentu dan kita pindahkan ke sini (Halim). Ada 64 penerbangan/jam tetapi di jam tertentu bisa mencapai 70 penerbangan/jam (di Soekarno-Hatta). Optimalisasi Halim untuk membantu beban Soekarno-Hatta," imbuhnya.
Keberadaan Halim sebagai penopang Bandara Soekarno-Hatta memang penting dilakukan. Di jantung kota ibukota seluruh dunia, minimal harus memiliki 2 bandara utama.
"Jadi harus ada satu bandara baru yang menjadi tandem Soekarno-Hatta seperti Bandara Harida dan Narita di Jepang contohnya lalu ada juga di Amerika. Kita harus menuju ke sana karena Jabodetabek jumlah penduduknya sudah 28 juta," tuturnya.
Jangka panjang pemerintah sedang mempersiapkan bandara baru di Karawang, Jawa Barat. Bandara ini digadang-gadang bisa menampung 10 juta penumpang per hari.
"Jangka panjang Karawang pembangunan harus segera dimulai yang bisa menampung penumpang 10 juta penumpang. Jadi ini proses pembangunannya tidak akan mengganggu areal pertanian," katanya.
(wij/dru)










































