Para penggemar The Fab Four tersebar di seluruh dunia, dan sangat banyak diantara mereka sangat fanatik. Para penggemar fanatik The Beatles (yang sering disebut Beatlemania) tersebut mengoleksi berbagai pernak-pernik seperti piringan hitam, CD, video, kaset, kaus, poster, dan sebagainya.
Di Indonesia, kiprah The Beatles sebenarnya sempat dilarang pada masa Orde Lama. Soekarno, presiden kala itu, menilai rock n roll seperti yang dimainkan The Beatles tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia karena terlalu hura-hura. Musik semacam ini mendapat julukan ngak ngik ngok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βWaktu SMP, saya rela hujan-hujanan untuk menonton film The Beatles ke bioskop Megaria. Saya bela-belain berlari. Itu sekitar 1960-an,β kenang Nancy Tobing, Presiden Indonesia Beatlemania Club.
Para Beatlemania memiliki latar belakang yang beragam. βMulai dari anak kelas 2 SD sampai yang punya KTP seumur hidup. Jadi salah kalau menganggap bahwa The Beatles itu musik jadul,β kata Arfan Hidayat, pemilik museum mini Rumah Beatles.
Tidak hanya dari segi usia, para Beatlemania juga punya profesi yang beragam. βPengamen, petugas keamanan, pelajar, mahasiswa, pegawai kantoran, artis, banyak sekali,β ujar Nancy.
Stephen Harper, Perdana Menteri Kanada, merupakan salah satu tokoh dunia yang merupakan Beatlemania sejati. Cangkir bergambar sampul album With the Beatles selalu terletak di meja sang perdana menteri. Setiap hari selalu cangkir yang sama. Harper juga pernah menyanyikan lagu With a Little Help From My Friend di sebuah acara pada 2009 lalu.
Steve Jobs, mendiang bos Apple Inc, juga merupakan seorang Beatlemania. Jobs bahkan pernah menyatakan bahwa The Beatles adalah inspirasinya dalam mengelola perusahaan.
βSetiap personel The Beatles mungkin pernah melakukan sesuatu yang buruk, tetapi mereka mencegah kawan-kawannya yang lain untuk melakukan hal serupa. Mereka seperti saling mengingatkan. Ikatan diantara mereka begitu hebat,β ucap Jobs seperti dikutip dari Huffington Post.
Rutherford Chang, seorang seniman Amerika Serikat, mungkin saja menjadi salah satu Beatlemania paling gila. Pria keturunan Taiwan ini mengoleksi album The Beatles keluaran 1968. Album ini memiliki sampul putih polos, sehingga sering disebut White Album.
Bertahun-tahun, Chang tidak mengoleksi album The Beatles lainnya kecuali White Album. Saat ini koleksi White Album milik Chang mencapai lebih dari 900 buah dan masih akan terus bertambah. Sebuah album didapatkannya dengan harga kurang dari US$ 20 atau sekitar Rp 240 ribu.
βProyek ini masih berjalan, dan saya masih akan menambah koleksi,β ujar Chang. Dia mengaku lebih menyukai album yang sudah kotor atau rusak karena menurutnya lebih menarik.
Ingin tahu sepak terjang para Beatlemania? Simak Laporan Khusus detikFinance edisi hari ini.
(hds/DES)











































