Perdagangan Gading, Bisnis Gelap yang Sedap

Gading, Emas Putih yang Menggiurkan (2)

Perdagangan Gading, Bisnis Gelap yang Sedap

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 13 Jan 2014 11:55 WIB
Perdagangan Gading, Bisnis Gelap yang Sedap
Jakarta - 6 Mei 2013. Malam baru menjelang ketika 17 pria bersenjata berat merangsek ke sebuah area terbuka di Taman Nasional Dzanga-Ndoki di Kongo.

Bukan. Mereka bukan hendak bertempur karena lokasi yang mereka tuju adalah tempat sekelompok gajah sedang berkumpul.

Para pria bersenjata itu kemudian naik ke sebuah tempat observasi di Dzanga Sangha, yang biasa dipakai ilmuwan dalam penelitian. Dor! Mereka mulai menembaki gajah-gajah itu dengan brutal. Satu per satu gajah itu bergelimpangan ke bumi.
 
Pembantaian itu berlanjut dengan 'pesta' pengambilan gading. Begitu akhir laporan World Wildlife Fund (WWF), yang dirilis pada pertengahan tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perburuan gajah secara liar di Afrika memang brutal. Selain ditembaki, tak jarang pemburu memakai racun sampai menembaki kawanan gajah dengan peluncur roket yang ditembakkan dari helikopter atau di atas permukaan tanah.

Akibatnya populasi gajah liar menurun. Contohnya di kawasan Taman Nasional Dzanga-Ndoki itu. Populasi gajah di sana sebetulnya tinggal 1.000-an ekor saja. Penembakan malam itu sudah pasti mengurangi populasi gajah liar yang dilindungi.

Populasi gajah di Afrika tinggal 500 ribu ekor, dari 1,2 juta ekor pada 1980. Hampir 100 ekor gajah dibunuh demi gadingnya setiap hari di Afrika, menurut Wildlife Conservation Society. Data tahun 2012, menurut Convention on the International Trade in Endangered Species (CITES), 22.000 ekor gajah mati dibantai.
 
Laporan yang dirilis oleh Convention on International Trade on Endangered Species pada tahun lalu mendapati bahwa perburuan dan perdagangan gading gajah ilegal telah meningkat tiga kali lipat selama satu dekade terakhir.

Padahal perdagangan internasional untuk gading gajah telah dilarang pada 1989. Tapi siapa yang tak tergiur pada harga gading?

Gading mentah bernilai Rp 20 jutaan per kilogram di pasar gelap. Sebanyak 70 persen pangsa pasarnya ada di China. Permintaan terhadap gading yang dijuluki 'emas putih' itu sangat tinggi di negeri Tirai Bambu.

Menurut laporan WildAid pada 2013, seperti dimuat kantor berita CNN, banyak penduduk China yang tak tahu bahwa penjualan gading gajah itu telah berkontribusi pada pembantaian gajah.

Meski perdagangan internasional gading gajah sudah dilarang, penjualannya secara legal masih terjadi di Amerika Serikat dan China, di samping perdagangan pasar gelap. Inilah yang membuat perburuan gajah untuk diambil gadingnya tak berhenti.

Pada Senin lalu otoritas China memusnahkan 6,15 ton gading gajah hasil sitaan selama beberapa tahun. Tapi diyakini, itu hanya sebagian kecil dari total sekitar 45 ton gading gajah yang beredar di negeri itu.
 
Tak heran kalau pemusnahan yang dilakukan China—seperti juga yang sudah dilakukan di Amerika Serikat, Filipina, Kenya, dan Gabon, dianggap bukan solusi.

Tom Milliken dari Traffic, organisasi yang memonitor perdagangan satwa liar, mengatakan pemusnahan itu akan membuat pemburu gajah berpikir bahwa harga gading akan naik, sehingga insentif untuk membunuh gajah pun semakin tinggi.

“Ini bisa jadi kontraproduktif dalam jangka lama,” kata Milliken.

 
(hds/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads