Sebagian koleksi itu dipajang di Kedai Vintage, di daerah Cirendeu (Tangerang Selatan). Tempat ini sudah berdiri sejak 2005. Ini adalah tempat nongkrongnya para penggemar mobil klasik alias vintage car.
Di Kedai Vintage mereka bisa saling tukar informasi, bahkan menambah koleksi. “Konsep Kedai Vintage adalah tempat jual-beli barang-barang antik seperti skuter, sepeda onthel, perangko, papan iklan, dan sebagainya. Tetapi kami dikenal karena mobil klasik,” kata Dharma, kepada detikFinance, di Jakarta kemarin.
Dharma bilang suka mobil klasik lantaran bentuknya. “Kemudian karena kelangkaannya, ini adalah mobil-mobil yang sudah tidak banyak di pasaran,” tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mobil, Kedai Vintage pun menjual bebagai aksesoris. Keberadaan Kedai Vintage pun mendapat tempat tersendiri di hati para pecinta mobil klasik. “Antusiasme penggemar di sini sangat tinggi. Memiliki satu mobil biasanya belum cukup, pasti ingin tambah lagi,” ujar Dharma.
Tidak hanya menjual mobil klasik dan aksesorisnya, Kedai Vintage pun menyewakan koleksinya untuk berbagai keperluan. Misalnya pembuatan film, video klip musik, atau iklan. Biayanya sekitar Rp 20 juta per hari. Beberapa film yang menggunakan jasa Kedai Vintage adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Perahu Kertas 2, Belenggu, dan Soe Hok Gie.
Dengan berbagai usaha tersebut, Dharma mengaku omzet bisnis Kedai Vintage di atas Rp 1 miliar per tahun. Menurut dia, bisnis di bidang mobil klasik memiliki prospek yang cerah.
“Orang makmur di Indonesia semakin banyak, tetapi stok mobil klasik terbatas. Semakin banyak orang yang mencari mobil klasik, semakin tinggi harganya,” kata Dharma.
Namun Dharma tidak memungkiri bahwa mobil klasik merupakan hobi yang menguras dompet. Apalagi untuk membeli mobil klasik harus secara tunai, tidak bisa dicicil. “Kalau harganya Rp 1 miliar ya harus dibayar segitu. Kalau kita tidak sanggup, masih banyak orang lain yang mau membeli,” katanya.
Untuk memulai hobi ini, Dharma menyatakan butuh dana awal setidaknya sekitar Rp 30-50 juta. Dana tersebut cukup untuk membeli Mercy keluaran 1970-an. “Tetapi itu baru mobilnya, belum kalau perlu perbaikan. Kemudian perawatannya juga butuh biaya,” ujarnya.
(hds/DES)











































