Berburu Mobil Kanjeng Pakubuwono di Belanda

Hobi Mobil Klasik (3)

Berburu Mobil Kanjeng Pakubuwono di Belanda

Hidayat Setiaji - detikFinance
Jumat, 17 Jan 2014 14:58 WIB
Berburu Mobil Kanjeng Pakubuwono di Belanda
Mobil Pakubuwono X yang kini ada di Belanda
Jakarta - Sebagaimana hobi yang lain, para penggemar mobil klasik pun punya perkumpulan sendiri. Namanya adalah Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), yang sudah eksis sejak 1979.

PPMKI bukan sembarang organisasi. Selaku tempat berkumpulnya pehobi mobil klasik, organisasi ini ternyata punya sebuah misi menarik: berburu mobil pertama di Indonesia, yang pernah jadi milik Pakubuwono X dari Kraton Solo.

Mobil yang dipernah dimiliki Pakubuwono X itu adalah Mercedes-Benz Pheaton buatan 1892. Mobil tersebut kini disimpan di sebuah museum di Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Pada 1924, mobil tersebut rusak dan dibawa ke Belanda untuk diperbaiki. Ternyata tidak pernah pulang sampai sekarang. Kami mencoba mengembalikan mobil itu. Memang hal kecil, tetapi sangat berarti bagi sejarah otomotif Indonesia,” kata Bambang Rus Effendi, Ketua Umum PPMKI.
 
Selain itu, PPMKI adalah tempat para penggemar mobil klasik berkumpul. Anggotanya mencapai 2.500 orang, tersebar di berbagai daerah. “Kami memiliki pengda (pengurus daerah) di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Di Papua saja yang belum ada,” kata Bambang kepada detikFinance, di Jakarta, kemarin.

PPMKI kerap mengadakan acara untuk saling mengakrabkan sesama anggota dan juga memasyarakatkan hobi mobil klasik di Indonesia. “Kami pernah mengadakan balap mobil klasik di Sentul. Ini membuktikan mobil klasik pun masih kuat untuk balapan,” ucap Bambang.
 
Bambang sendiri menjadi bos PPMKI sejak sekitar 13 tahun lalu. Dia mulai serius menggeluti dunia mobil klasik pada 1995. “Sebenarnya sudah agak terlambat, tapi tidak apa-apa,” ujar laki-laki berusia 66 tahun tersebut.

Hal yang membuat Bambang menyukai mobil klasik adalah nostalgia. Orang tuanya dulu memiliki mobil-mobil keluaran 1950-an dan 1960-an. “Ini yang membuat sata tertarik dan terobsesi dengan mobil klasik,” kenangnya.

Dulu Bambang sempat memiliki 30 unit mobil klasik. Namun sebagia sudah terjual, dan kini tersisa tujuh unit yang di antaranya adalah Mercedes-Benz dan Morris.

Selama menggeluti hobi ini, Bambang menyatakan sudah mengeluarkan dana ratusan juta rupiah. “Saya ini masih yang standar saja, belum yang high,” ucapnya.

Meski sudah mengeluarkan dana cukup banyak, tetapi Bambang menganggapnya sebagai investasi. Ya, mobil klasik memang bisa menjadi sarana investasi. Dari “modal” ratusan juta rupiah tersebut, dia mengaku bisa mendapatkan dana sekitar Rp 1 miliar dari hasil menjual mobil klasik.

Bagi Bambang, mahal atau tidaknya hobi ini bisa dibilang relatif. “Kita bisa membeli mobil dengan harga Rp 10 juta, tetapi itu biasanya dalam kondisi rongsokan. Untuk perbaikan butuh dana kira-kira Rp 20-30 juta, itu masih relatif murah,” katanya.

Ke depan, Bambang menilai hobi mobil klasik akan terus diminati. Semakin banyak anak muda yang tertarik dengan hobi ini. “Bahkan beberapa ketua pengda, sepetti di Jawa Barat dan Jawa Timur, adalah anak-anak muda. Generasi muda di daerah lah yang akan menentukan, karena kegiatan akan banyak di daerah,” tuturnya.

Namun, Bambang mengatakan bahwa kini dana yang dibutuhkan untuk hobi ini semakin meningkat. Ini tidak lepas dari semakin banyaknya orang yang tertarik dengan mobil klasik.

“Dulu saya dapat mobil Morris dengan harga Rp 6 juta, tetapi sekarang sudah Rp 25 juta. Semakin banyak yang cari harganya jadi semakin mahal,” keluh Bambang.

(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads